Minggu, 28 Juni 2015

Resensi Buku: Once a Witch

Identitas Buku
Judul Buku      : Once a Witch (terjemahan)
Pengarang       : Carolyn MacCullough
Penerbit           : PT. Ufuk Publishing house
Tahun Terbit    : 2011
Tebal Buku      : 418 halaman

Sinopsis
Novel ini menceritakan tentang kehidupan seorang gadis yang bernama Tamsin Green harus hidup dengan keluarganya yang ‘berbeda’ dengannya. Keluarga itu terlihat seperti keluarga biasa, tapi siapa yang tahu kalau keluarga ini memiliki kelebihan atau yang mereka sebut dengan talenta dan Tamsin tidak memiliki talenta apapun seperti keluarganya.
Hidupnya berjalan seperti manusia pada umumnya, namun semua berubah ketika seorang professor yang mengaku bernama Alistair menganggap dirinya Rowena sang kakak, dan membiarkan kesalahpahaman ini berlanjut sampai Rowena bertemu dengan Alistair. Tamsin memulai petualangannya bersama Gabriel melintasi waktu untuk mencari apa itu yang disebut dengan Domani, benda yang dibutuhkan oleh Alistair.
Semuanya mulai terlihat kacau, mulai dari Rowena yang mulai berubah, sang nenek yang terbaring lemah ditempat tidur, dan Agatha teman asramanya yang dimanfaatkan oleh Alistair untuk kehidupannya. Dalam petualangannya, Tamsin mendapat banyak hal, fakta bahwa ia memiliki talenta yang disembunyikan oleh  nenek dan orangtuanya, cinta sejati, dan pertemuannya dengan sang nenek disaat umur neneknya sebaya dengannya saat ini.
Tamsin mengikuti semua permainan Alistair sampai pada saat misteri Domani terpecahkan, dan Alistair mencoba membawa Rowena bersamanya. Dengan kemampuannya, Tamsin mencoba untuk menghentikan Alistair membawa Rowena kemasa dimana Domani belum diciptakan dan itu berhasil. Alistair menghilang bersamaan dengan mengecilnya Domani yang dalam bentuk jam dinding.
Tamsin, Gabriel, dan Rowena kembali kerumahnya dan mereka telah disambut haru oleh keluarganya, dan hal yang paling mengejutkan lagi sang nenek yang juga terbangun dari tidur panjangnya. Seperti tahun lalu, setiap hari Samhain mereka membuat sedikit perayaan panen kebun, dan untuk kali ini Tamsin merasa berbeda dihari lahirnya.

Unsur Intrinsik Novel

1.      Tema                     : Sihir, cinta, dan hubungan kekeluargaan.
2.      Latar belakang      : New York, New York University, Town House, Hedgerow.
3.      Waktu                   : Pagi sampai malam, tahun 1899, 1939.
4.      Suasana                 : Menegangkan, romantis, menyenangkan.
5.      Alur                       : Novel ini menggunakan alur maju, sekalipun dalam novel diceritakan
 saat mereka kembali kemasa lalu, itu sebenarnya mereka melakukan sesuatu yang akan datang.
6.      Gaya bahasa          : Menggunakan gaya bahasa terjemahan.
7.      Amanat                 : (1) Bagaimana pun anehnya sebuah keluarga, mereka tetaplah keluarga.
(2) Disetiap kekurangan pasti aka nada sebuah kelebihan yang tersembunyi, tidak perlu merasa terasingi atau mengasingkan diri.
8.      Penokohan                        : (1) Tamsin, keras kepala, selalu bertindak sesukanya, terlalu gegabah
dalam bertidak. (2) Gabriel, menurut dengan ibunya, membangkang dengan ayahnya, sabar. (3) Rowena, terlalu membanggakan diri, suka merendahkan orang lain. (4) Alistair, pembohong, antagonis.

Kelebihan Novel
Dalam novel ini mengajarkan kita banyak hal tentang perbedaan namun dapat menyatukan segalanya, persahabatan antara penyihir dan manusia biasa, serta perjuangan demi menyelamatkan keluarganya.


Kelemahan Novel

            Pemakaian kata yang berulang-ulang, pada bagian epilognya diparagraf terakhir mungkin banyak yang tidak memahami maksud dari waktu yang dibicarakan oleh 2 orang tokoh dalam novel.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar