Rabu, 28 Oktober 2015

Mahkotaku

Mahkotaku
Oleh Heldiana



Dekriminasi. Aku adalah korbannya. Hanya karena aku tidak seperti mereka, deskriminasi menghampiriku. Salahkah aku memilih apa yang menjadi prinsip dan keyakinanku? Aku hanya tidak ingin menjerumuskan kedua orangtuaku ke dalam neraka-Nya demi mengikuti kemauan mereka.
Berjilbab adalah pilihanku. Apapun yang terjadi aku tidak akan melepaskan mahkota seorang wanita yang kumiliki ini. Bahkan sekalipun ketika mereka mengejekku, menghinaku, mencemoohku, dan melakukan apapun yang menurut mereka akan membuatku malu.
Malu bagiku adalah melepas mahkotaku di hadapan yang bukan mahramku. Mahkota yang terlihat sederhana namun seperti tameng yang melindungi. Mahkota yang sederhana jika hanya dilihat sekejap mata. Mahkota yang sederhana namun menyimpan berjuta keindahan. Mahkota yang sederhana bagi mereka yang rela menampakkan rahasia mahkota.
Ketika nyanyian bernada meremehkan yang mereka lantunkan untukku tidak pernah sekalipun kuhiraukan. Bagiku, nyanyian itu adalah pujian yang terlalu malu untuk mereka sampaikan.

Aku pada prinsipku, berjilbab adalah pilihanku. Ketika kalian tidak ingin berjilbab jangan menarikku ke dunia kalian. Karena aku tidak ingin menyeret kedua orangtuaku ke dalam panasnya api neraka.

Jika boleh diizinkan, aku yang akan menarik kalian ke dalam duniaku, dalam pilihanku, dan dalam prinsipku. Sebagai wanita muslimah mari bersama-sama kita budayakan ‘Berjilbab yang sederhana’.

Puisi : Rakyat dan Dewan

Rakyat dan Dewan
Karya: Heldiana



Satukan langkah
Satukan jiwa
Mari menjemput
Dewan yang terhormat

Satukan langkah
Satukan jiwa
Mari membangunkan
Dewan yang terhormat

Rakyat menanti
Dewan berjanji
Rakyat memilih
Dewan terpilih

Rakyat optimis
Dewan mengemis
Rakyat berjuang
Dewan beruang

Rakyat berang
Dewan berangan
Rakyat bangkit

Dewan pun tak berkutik