Selasa, 30 Juni 2015

Puisi: Malaikat Kecilku

Malaikat Kecilku
Oleh : Heldiana (AceFanFan)

Karenamu aku bahagia
Kehadiranmu duniaku lebih berwarna
Bagaikan pelangi yang muncul setelah
badai menerpa

Kau mengubah sudut pandangku
Kau menyentuh lubuk hatiku
dengan tangisan lembutmu
Jerita pertama yang membuatku terenyuh

Kegembiraanmu adalah bahagiaku
Tangismu menjadi dukaku
Doaku selalu menyertai jalanmu

Kasih sayangku tidak terhalang
Tidak terbatas, dan tidak berlubang
dan setiap keputusanku adalah

hal terbaik untukmu

Cerpen: Just Friend


Just Friend
Oleh : Heldiana (AceFanFan)

Yuli memperhatikan Nissa  yang sejak tadi menatap lurus kedepan, lebih tepatnya menatap punggung Andi yang  duduk membelakangi mereka berdua.
“Nis, kamu liat apa sih? Dari tadi pandangan kamu lurus kedepan?” tanya Yuli menyikut lengan Nissa.
Nissa menoleh kearah Yuli. “gak ada kok, Yul.” Ucapnya menggeleng. “Yul, kamu ngerasa gak sih kalau Andi sering banget liatin kesini?  Aku sering mergoki dia, dan dia langsung ngalihin pemandangannya kalau udah kepergok.” Yuli mengerutkan alisnya. “Dia juga sering senyum kearah aku, jangan-jangan Andi suka lagi sama aku.” Lanjut Nissa.
Yuli hampir tersedak dengan air liurnya sendiri dan menatap horror kearah Nissa. “Maksud kamu apa Nis?”
“aah, lupain aja. Oya, tugas yang di kasih Bu Erna udah siap belum? Aku minta ya?” Nissa mengerjab-ngerjabkan matanya memohon.
Yuli memutar bola matanya malas dan melempar buku tugasnya yang baru ia keluarkan dari dalam tasnya di depan Nissa.
“baik banget.” Nissa langsung mengambil buku itu dan menyalinnya di bukunya.



Yuli duduk di halte tempat biasa dia menunggu bus sekolah sambil tangannya sibuk mengetik pesan-pesan singkat entah dengan siapa. Kadang Yuli tersenyum membaca balasan pesan-pesan itu kemudian ia mengetik pesan singkat lagi untuk membalas pesan dari seseorang. Bus sudah berhenti tepat di hadapan Yuli, ia bergegas masuk ke dalam bus sekolah dan di sambut oleh teriakan Nissa.
“YULI!!!” Nissa menarik Yuli duduk didekat sopir bus. Sang sopir Cuma tersenyum mendengar teriakan Yuli. Ini sudah biasa sang sopir karena memang setiap pagi Nissa akan berteriak-teriak tidak jelas di dalam bus, kadang juga dia sering di tegur oleh penghuni bus lainnya.
“Yuli, aku mau cerita sesuatu sama kamu.”
“Mau cerita apa?” Yuli yang tadinya sibuk dengan ponselnya mengalihkan pandangannya kearah Nissa.
“Semalam aku di tembak Andi.” Yuli membulatkan matanya terkejut, mulutnya menganga lebar.
“Kok bisa?” tanya Yuli yang justru mendapat kerutan di alis Nissa.
“Kamu kok nanyanya gitu? Seharusnya kamu tanya ‘kamu terima dia gak?’ bukannya ‘kok bisa?’” Nissa mengerucutkan bibirnya.
“Oke! Oke! Oke! Kamu terima dia gak?”
“Aku belum jawab.” Nissa menggelengkan kepalanya. “soalnya semalam aku gak punya pulsa.” Lanjut Nissa yang langsung ngebuat Yuli seakan-akan pengen ngelempar Nissa keluar bus.
Sopir bus yang dari tadi mendengar perbincangan mereka menoleh kearah mereka berdua. “seharusnya minta sama dia aja pulsanya.”
“Gak mungkin, Pak. Dia teman sekelas saya, mau di taruh dimana muka saya kalau minta pulsa sama dia. Entar di kiranya saya gak mampu buat isi pulsa sendiri.”
“Emang gak mampu, kan? Hahaha.” Goda Sang sopir. Nissa merengut kesal. “saran Bapak nih ya, mending gak usah di terima aja.”
“Kenapa gitu, Pak?”
“Dia itu kan teman sekelas kamu, gak enak nantinya. Pasti sering di ledekin sama teman-temannya kalau sampai ketauan. Apalagi kalau udah putus pasti rasanya canggung banget, apalagi kalau samapai musuhan. Kan gak enak kalau musuhan sama teman kelas sendiri.”
“Iya juga sih, Pak. Jadi saya harus gimana Pak?”
“Jadi  teman dekat aja. Pacar itu bisa putus tapi kalau teman itu gak ada yang namanya putus. Kalau emang udah cinta banget nikah aja.”
“Hush, Bapak! Kita ini masih mau sekolah yang tinggi Pak.” Ucap Yuli yang dari tadi diam mendengar ucapan sang sopir dan temannya Nissa.
“Hahahaha, bagus kalau kayak gitu. Pacaran jangan di jadikan prioritas utama.”
“Iya Pak!” ucap mereka berbarengan.



“Andi, aku mau ngomong sama kamu?” Yuli berdiri di depan meja Andi.
“Mau ngomong apa sayang?”
“Iisssh, gak usah panggil-panggil ‘sayang’ di sekolah.”
“Hehehehe. Emang mau ngomong apa sih?”
“Aku mau kita putus!” ucap Yuli menundukkan kepalanya sambil memainkan jari-jari tangannya.
“P-pu-putus? Tapi kenapa?”
“Semalam kamu nembak Nissa, kan? Mau kamu apa sih? Nissa itu teman dekat aku.” Yuli mengangkat wajahnya menatap Andi.
“Nembak? Pakek pistol maksudnya? Hahahaha.” Andi justru tertawa membuat Yuli sedikit kesal dan menginjak kaki Andi. “Aaawww!!!” rintih Andi.
“Aku gak lagi becanda Andi!!” geram Yuli.
“Oke! Oke! Oke! Semalam aku gak nembak Nissa. Beneran deh, di cium orang gila pun aku rela.” Andi mengacungkan jari tengan dan telunjuknya membentuk huruf V.
“Apaan sih kamu?! Entar di cium beneran looh.”
“Kan kalau aku bohong di cium.” Andi mencolek dagu Yuli membuat Yuli melotot kearahnya. “Kalau kamu minta putus cuma gra-gara itu aku gak mau. Lagian semalam aku cuma ngirim kata-kata gombalan. Yaaah, maksud aku cuma mau minta pendapat dia cocok gak kalau gombalan itu ku kirim untuk kamu. Tapi dianya malah gak ngebalas pesan aku. Masa Cuma gara-gara itu aku di bilang nembak dia sih? Teman kamu kegeeran banget!”
Yuli mencubit lengan Andi. “Kamu juga salah, tiap hari kamu sering ngelirik dia, kan?”
“aku gak ngelirik dia, aku ngelirik kamu dan selalu kepergok dia. Itu yang benar!”
“serah deeh, pokoknya kau mau putus!”
“tapi aku gak mau!” Andi melipat kedua tangannya di depan dadanya.
“tapi aku belum siap nikah, Andi! Aku ingin sekolah yang tinggi, ngebanggain orang tua, dan masih banyak yang ingin aku lakuin.” Yuli berkacak pinggang.
“yang ngajak kamu nikah siapa? Kita kan cuma pacaran?!”
“jadi kamu gak cinta sama aku?”
“eh? Bukan gitu!”
“sopir bus bilang, pacaran itu gak ada manfaatnya. Kalau emang udah cinta langsung nikah aja. Dan kamu gak cinta sama aku.” Yuli merengut membuat Andi kembali tertawa.
“ahahahahaha, kamu kok polos banget sih? Emang kamu mau nikah sekarang?” Yuli menggeleng. “naah kan, kamu aja belum siap. Jadi alasan kamu minta putus Cuma itu?” Yuli mengangguk. “bukan karena gara-gara aku rumor  nembak Nissa?” yuli menggeleng. “oke, aku mau kita putus, tapi dengan syarat!”
“apa syaratnya?”
“kita masih tetap berteman, kan?”
“itu pasti!”
“oke!” Andi merangkul  Yuli. “teman boleh melakukan apapun pada temannya, kan?”
“gak semuanya Andi.”
“temenin aku makan! Aku lapar. Sebagai teman yang baik tidak boleh menolak.”
Yuli menghela nafas pelan. “oke! Kamu yang traktir. Sebagai teman yang baik tidak boleh menolak.” Yuli mengulang kata-kata Andi dan tersenyum puas melihat Andi sedikit kesal. Hei, ini masih terlalu pagi untuk mentraktir seorang teman. Tapi tidak apa-apa juga selama dia tidak rakus di kantin nanti.
“kau tidak rakus, kan?”
“tentu tidak! Tapi aku sedang lapar, jadi aku akan menghabiskan semua makanan yang ada di kantin.”
“kau ingin membuatku brangkrut?!”
“hahahahaha, teman tidak setega itu.”
“haaah, syukurlah. Setidaknya jika kau melakukan itu, kau harus bayar sendir.”
“kau bilang ingin mentraktirku?!”
“aku tidak ingin mentraktirmu, tapi kau yang minta di traktir.”
“terserah kau sajalah.”

“hahahahaha.” Mereka terus bercanda di sepanjang jalan menuju kantin. Ya, begitulah teman. Tidak ada rasa sungkan untuk melakukan hal apapun bersama.

END

Resensi Buku : Aku Belum Tapi Harus


Identitas Buku
Judul Buku      : Aku Belum Tapi Harus
Penulis             : Sabirin Arga
Penerbit           : Smart WR
Tahun Terbit    : 2014
Tebal Buku      : xiv + 149 halaman


Biografi Penulis
Sabirin Arga lahir di Owaq kabupaten Aceh Tengah pada tanggal 19 Februari 1993 bersuku Gayo, yang sekarang menempuh pendidikan di Telkom University Bandung dengan jurusan Administrasi Bisnis. Penulis berperan juga dalam dakwah menjadi seorang motivator dan Da’I muda.

Sinopsis
Sukses adalah sebuah impian, cita-cita, dan harapan yang ingin dicapai. Sukses itu mencakup keimanan yang kokoh, keluarga yang bahagia, tubuh yang sehat, bisnis atau karir yang berhasil, hubungan antarmanusia yang baik, pertumbuhan dan perkembangan pribadi, manajemen keuangan yang sukses, berporos pada jalan kebaikan, dan hidup yang dinikmati. Dalam sebuah kesuksesan aka nada lima aksi yang harus dilakukan, yaitu keiginan atau rencana, keyakinan, keberanian, perjuangan, dan berdoa.
Yang mengakibatkan banyak orang gagal, yaitu tidak ada tujuan hidup, tidak bertanggung jawab atas tindakannya, tidak yakin untuk sukses, banyak rencana tanpa tindakan, malas, salah berteman, manajemen waktu lemah, kurang pengembangan potensi diri, tidak ada komitmen untuk sukses, dan kurangnya hubungan antarmanusia dan sombong.
ESQ merupakan singkatan dari Emosional, Spiritual, dan Quentient yang dicetuskan oleh seorang tokoh bernama Ari Ginanjar yaitu gabungan antara kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). kecerdasan intelektual adalah kemampuan seseorang dalam berpikir, menalar, memecahkan masalah, dan memahami gagasan berpikir. Kecerdasan emosional merupakan kemampuan kita mengenali emosi kita, memahami apa yang orang lain sampaikan kepada kita, dan menyadari betapa emosi kita mempengaruhi orang-orang disekitar kita. Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang berasal dari dalam hati, menjadikan kita kreatif ketika kita dihadapkan pada masalah pribadi,  dan mencoba melihat makna yang terkandung di dalamnya, serta menyelesaikan dengan baik agar memperoleh kedamaian dan ketenangan hati.
Dalam mengembangkan potensi diri, kita harus mengenali potensi diri, caranya yaitu mengenal diri sendiri, tentukan tujuan hidup, kenali motivasi hidup, hilsngkan negaatif thingking, dan jangan mengadali diri sendiri. Ada beberapa potensi diri, yaitu potensi bakat, potensi tenaga, potensi wawasan, dan potensi akademik. Pribadi yang mulia yaitu jujur, ikhlas, sabar, rendah hati, bertanggung jawab, percaya diri, berpikir positif, disiplin, dan komitmen.

Kelebihan Buku
Dalam buku ini terdapat banyak sekali kata-kata motivasi yang dapat memotivasi para pembaca serta terdapat pula kata bijak yang membuat para pembaca sadar akan hal yang dimilikinya.

Kelemahan Buku

Penguasaan EYD yang kurang serta kalimat yang kadang membuat pembaca bingung dengan makna yang ingin disampaikan.

Puisi: Ketidak Siapanku

Ketidak Siapanku
Oleh: Heldiana (AceFanFan)


Detik-detik terasa mendebarkan
Saat aku ingin bertemu denganmu
Jantungku berdetak cepat
Seolah-olah ingin melompat dari sarangnya

Tap...
Kau semakin mendekat kepadaku
Peluh mengalir deras di keningku
Dan saat kau berada tepat di hadapanku
Kekosongan mengisi pikiranku

Gugup, itu yang kurasakan
Takut ketika harus menghadapimu
Resah, itu yang ada dalam pikiran

Dengan tangan bergetar
Kucoba untuk meraih sebatang pena
Menorehkannya di atas lembaran putih
Mencoret hal-hal yang dapat ku ingat
Aku benar-benar frustasi karenamu

Ujian... ooh ujian...
Ketidak siapanku

Membuat segalanya begitu berat

Cerpen: Fangirl


Fangirl
Oleh    : Heldiana (AceFanFan)


Aku mengusap poster ‘suami masa depan’ku itu dengan lembut, seakan-akan  aku sedang menyentuh wajahnya. Aku memanjukan sedikit kepalaku dan mencium pipinya. Sungguh menyenangkan jika poster itu berubah menjadi sosok yang nyata berdiri di hadapanku.
“Selamat pagi, sayang.” ucapku kemudian tersenyum lebar.
Apa kalian pikir aku ini gila? Aku tidak gila, oke. Aku hanya terlalu berlebihan memperlakukan idolaku. Setidaknya begitulah kata teman-temanku dan aku tidak peduli apa kata mereka. Hei, ini hidupku dan aku yang menjalani semuanya.
Baiklah, akan kuperkenalkan diriku. Namaku Heldi dan aku gadis tulen, oke. Aku seorang mahasiswa di salah satu universitas suwasta. Cita-citaku ingin menjadi seorang istri dari idolaku sendiri. Oke, ini terlalu berlebihan, anggap saja kalimat terakhir itu hilang. Ke inginanku adalah mengunjungi atau setidaknya ‘suami masa depan’ku itu mengunjungiku suatu saat ini. Mungkin mimpiku terlalu tinggi, tapi tidak ada salahnya bukan? Hei, untuk menjadi sukses itu berawal dari mimpi bukan? Hahahaha
Aku berasal dari keluarga yang sederhana dengan dua orang saudara perempuan. Sayangnya aku anak pertama jadi sulit bagiku untuk meminta uang tambahan kepada saudaraku. Aku berharap setidaknya aku memiliki seorang kakak, yang bisa memberiku uang pastinya. Hahahaha aku hanya bercanda xD
Cukup bukan perkenalannya? Aku harus buru-buru karena sebentar lagi akan ada jam mata kuliah yang entah kenapa dosennya galak sekali. Aku tidak ingin terlambat masuk kuliah hanya karena perkenalan ini.
Aku sampai ke kampus dengan selamat tanpa cacat sedikitpun dan yang lebih menyenangkan aku tidak terlambat. Maklum saja aku termasuk mahasiswa teladan di kelasku. Aku mendaratkan bokongku ke kursi samping Ida dan sepertinya dia tidak terganggu dengan kedatanganku. I don’t care about it. Dia memang seperti itu tapi percayalah dia sahabat yang paling setia untukku. Setidaknya dia merelakan dirinya menjadi bulan-bulananku ketika aku sedang berada pada fase galau tingkat akut.
Ponselku berdering tanda ada yang menelpon dengan ringtone lagu yang dinyanyikan oleh ‘suami masa depan’ku The Answer. Aku meliriknya sekilas ketika membaca nama Rara tertera di layar ponselku.
“Ha...”
“Heldi bebeb!!!!” teriaknya membuatku menjauhkan ponselku dari telinga.
“Kenapa beb? Tenang, tenang, jangan emosi beb.” Ucapku mencoba menenangkannya.
“Beb, aku sedih.” Aku mengerutkan keningku bingung. “Myungsoo huuweee” dan aku tertawa terbahak-bahak setelah mendengarnya menyebut nama visual dari BB idolaku desertai rengekannya.
“Beb nanti cerita lagi ya, dosennya mau masuk nih.” Ucapku disela-sela tawaku dan setelahnya sambungan pun mati.
“Kumat gilanya.” Ucap Ida yang menatapku datar dan aku tersenyum geli.



Setelah melewati dua mata kuliah yang hampir bersamaan dan disinilah aku sekarang. Berada dengan damai di kamarku. Ooh, aku lupa menceritakan bagaimana kamarku saat ini. Tidak ada yang istimewa dari kamarku, hanya ada poster-poster yang menutupi setiap celah dinding kamarku dan lainnya yang berbau dengan idolaku. Dulu aku pernah diomelin Ibu gara-gara hal ini tapi lama kelamaan Ibu jadi bosan mengomeliku. Hehehe, aku minta maaf soal ini Ibu.
Aku berbaring di kasurku yang berseprai hamtaro, dan kedua telingaku telah kusumbat dengan earphone mendengar celotehan sahabatku yang lain –Rara- tentang patah hatinya karena idolanya.
“Udah Ra, ikhlasin aja. Lagian Myungsoo main drama itu juga untuk mencari nafkah, mengumpulkan uang untuk melamarmu.” Biasanya perkataanku yang seperti itu akan membuatnya lebih tenang tapi kali ini aku sepertinya harus kecewa karena nyatanya dia tidak mau menghentikan aksi ‘Mari menangisi kissing scene Myungsoo’.
Akhirnya pembicaraan kami berakhir setelah satu setengah jam lamanya, telingaku serasa panas. Aku mencharger ponselku dan berjalan keluar kamar untuk membantu Ibu memasak di dapur.


Apa yang ada dibenak kalian mendengar kata ‘malam minggu’? pacaran? Jalan-jalan? Atau nyabe? Coret yang terakhir itu. Aku tidak melakukan semuanya, hanya bermodalkan kouta yang banyak dan aku mulai berselancar di sosmed, mencari hal-hal baru yang berhubungan dengan ‘suami masa depan’ku dan grupnya. Di dunia fangirl ini adalah hal yang lumrah. Sedikit bocoran untuk kalian, kami para Kpoper –sebutan untuk pecinta hallyu star- lebih memilih jomblo dan bersenang-senang dengan teman sesama Kpopers daripada menghabiskan malam minggu dengan berpacaran.
Dulu pernah seorang teman bernama Reza bertanya padaku perihal pacar dan dengan entengnya aku selalu menjawab “Pacarku sedang berada jauh denganku, tapi percayalah suatu saat nanti dia akan menjemputku.” Kataku memasang wajah seserius mungkin dan dia hanya menatapku datar. Sungguh, aku ingin tertawa menatap ekspresinya. Dia benar-benar lucu sekali.
Itu baru ceritaku, belum lagi cerita teman sesama Kpopers, akan lebih lucu dan menghebohkan lagi. Ada yang mengatakan “Aku akan menikah dengan seseorang yang mirip dengan Kyuhyun.” “Jodohku itu Yesung, sedangkan yang lain hanya sebagai selingan sambil menunggu lamarannya.” “Kalaupun aku tidak menjadi istri dari seorang Oh Sehun, tapi setidaknya aku akan menjadi Ibu dari anak-anaknya kelak.” dan masih banyak lagi kalimat yang menurut orang menggelikan dan gila keluar dari mulut fangirl.
Ini hanya sedikit kisahku tentang kehidupan fangirl yang kadang-kadang mendapat cemoohan dari orang-rang hanya karena kami ‘berbeda’ dari mereka. Aku tidak berniat sama sekali untuk menceritakan cemoohan apa saja yang kami dapatkan, tapi percayalah hanya kami yang mengetahui sisi baik dan sisi buruk kehidupan kami. Bahkan kami tidak pernah mengusik orang lain dan orang lain tidak diharapkan mengusik kehidupan kami.


END

Minggu, 28 Juni 2015

Resensi Buku: Once a Witch

Identitas Buku
Judul Buku      : Once a Witch (terjemahan)
Pengarang       : Carolyn MacCullough
Penerbit           : PT. Ufuk Publishing house
Tahun Terbit    : 2011
Tebal Buku      : 418 halaman

Sinopsis
Novel ini menceritakan tentang kehidupan seorang gadis yang bernama Tamsin Green harus hidup dengan keluarganya yang ‘berbeda’ dengannya. Keluarga itu terlihat seperti keluarga biasa, tapi siapa yang tahu kalau keluarga ini memiliki kelebihan atau yang mereka sebut dengan talenta dan Tamsin tidak memiliki talenta apapun seperti keluarganya.
Hidupnya berjalan seperti manusia pada umumnya, namun semua berubah ketika seorang professor yang mengaku bernama Alistair menganggap dirinya Rowena sang kakak, dan membiarkan kesalahpahaman ini berlanjut sampai Rowena bertemu dengan Alistair. Tamsin memulai petualangannya bersama Gabriel melintasi waktu untuk mencari apa itu yang disebut dengan Domani, benda yang dibutuhkan oleh Alistair.
Semuanya mulai terlihat kacau, mulai dari Rowena yang mulai berubah, sang nenek yang terbaring lemah ditempat tidur, dan Agatha teman asramanya yang dimanfaatkan oleh Alistair untuk kehidupannya. Dalam petualangannya, Tamsin mendapat banyak hal, fakta bahwa ia memiliki talenta yang disembunyikan oleh  nenek dan orangtuanya, cinta sejati, dan pertemuannya dengan sang nenek disaat umur neneknya sebaya dengannya saat ini.
Tamsin mengikuti semua permainan Alistair sampai pada saat misteri Domani terpecahkan, dan Alistair mencoba membawa Rowena bersamanya. Dengan kemampuannya, Tamsin mencoba untuk menghentikan Alistair membawa Rowena kemasa dimana Domani belum diciptakan dan itu berhasil. Alistair menghilang bersamaan dengan mengecilnya Domani yang dalam bentuk jam dinding.
Tamsin, Gabriel, dan Rowena kembali kerumahnya dan mereka telah disambut haru oleh keluarganya, dan hal yang paling mengejutkan lagi sang nenek yang juga terbangun dari tidur panjangnya. Seperti tahun lalu, setiap hari Samhain mereka membuat sedikit perayaan panen kebun, dan untuk kali ini Tamsin merasa berbeda dihari lahirnya.

Unsur Intrinsik Novel

1.      Tema                     : Sihir, cinta, dan hubungan kekeluargaan.
2.      Latar belakang      : New York, New York University, Town House, Hedgerow.
3.      Waktu                   : Pagi sampai malam, tahun 1899, 1939.
4.      Suasana                 : Menegangkan, romantis, menyenangkan.
5.      Alur                       : Novel ini menggunakan alur maju, sekalipun dalam novel diceritakan
 saat mereka kembali kemasa lalu, itu sebenarnya mereka melakukan sesuatu yang akan datang.
6.      Gaya bahasa          : Menggunakan gaya bahasa terjemahan.
7.      Amanat                 : (1) Bagaimana pun anehnya sebuah keluarga, mereka tetaplah keluarga.
(2) Disetiap kekurangan pasti aka nada sebuah kelebihan yang tersembunyi, tidak perlu merasa terasingi atau mengasingkan diri.
8.      Penokohan                        : (1) Tamsin, keras kepala, selalu bertindak sesukanya, terlalu gegabah
dalam bertidak. (2) Gabriel, menurut dengan ibunya, membangkang dengan ayahnya, sabar. (3) Rowena, terlalu membanggakan diri, suka merendahkan orang lain. (4) Alistair, pembohong, antagonis.

Kelebihan Novel
Dalam novel ini mengajarkan kita banyak hal tentang perbedaan namun dapat menyatukan segalanya, persahabatan antara penyihir dan manusia biasa, serta perjuangan demi menyelamatkan keluarganya.


Kelemahan Novel

            Pemakaian kata yang berulang-ulang, pada bagian epilognya diparagraf terakhir mungkin banyak yang tidak memahami maksud dari waktu yang dibicarakan oleh 2 orang tokoh dalam novel.

Rabu, 24 Juni 2015

Puisi: Fangirl

Fangirl
Karya: Heldiana (AceFanFan)

Aku mencintaimu
Walau tak pernah terbalaskan
Aku memperhatikanmu
Walau selalu diabaikan
Dan aku menatapmu
Tanpa kau sadarkan

Menyenangkan apabila memilikimu
Bahagia jika dicintaimu
Kecewa melihatmu memeluk yang lain
Bersedih melihatmu menangis

Aku tidak pernah bertatap muka denganmu
Kuyakin kau juga tidak mengenalku
Tapi rasa itu terus tumbuh
Semakin besar seiring berjalannya waktu

Aku tersenyum ketika orang memujimu
Marah ketika orang mencemoohmu
Sungguh aku bingung dengan hatiku
Membelamu semampuku

Aku Bukanlah yang terpenting bagimu
Tapi bagiku, kaulah motivasiku

Oh my idola...

Cerpen: Vengeance

Vengeance
Oleh: Heldiana (AceFanFan)

Hujan turun semakin lebat, tidak peduli akan manusia di bawah sana yang berlari kesana-sini untuk mencari perlindungan. Tidak begitu berbeda di tempat pemakaman umum, sekelompok manusia yang mengelilingi sebuah makam perlahan mulai berkurang.
“Paman, kenapa kau pergi, hiks? Hanya kau satu-satunya keluargaku. Hiks, tidakkah kau kasian melihatku hidup sebatang kara?” seorang gadis masih setia menangisi orang yang ia sebut ‘Paman’nya itu.
“Nay, sudah. Biarkan dia beristirahat dengan tenang.” Laki-laki yang berada di samping gadis itu mengusap lembut punggungnya.
“Kau tidak mengerti Roy, kau tidak pernah merasakan ditinggal oleh keluargamu.” Nayla –gadis tersebut- mengusap lembut batu nisan sang paman. “Semenjak kecil, hanya paman yang ada dihidupku setelah kedua orangtuaku meninggal. Dialah satu-satunya keluarga yang kupunya. Aku iri dengan yang lain, saat aku masih berumur delapan tahun, aku melihat teman-temanku dijemput oleh orangtuanya, sedangkan aku? Aku menunggu paman sampai sore di sekolah. Paman selalu bilang padaku, walaupun aku tidak punya orangtua lagi, aku akan tumbuh sama seperti anak-anak yang tidak pernah kekurangan kasih sayang kedua orangtuanya. Karena pamanku yang akan memberikannya untukku.” Nayla tersenyum mengingat masa-masa itu. Air mata masih setia beranak sungai di pipinya.
Roy menghela napas pelan. “Baiklah, aku akan membiarkanmu sendiri disini. Aku menunggumu di luar.” Nayla tidak menoleh, ia masih terus menatapi nisan pamannya membuat Roy sedikit bergetar. Ternyata kekasihnya sungguh sangat rapuh.
Sepeninggal Roy beberapa menit yang lalu, Nayla bangkit dari jongkoknya. Matanya masih terpaku dengan nisan bernama Johan Pangestu tersebut. Pikirannya berputar ke masa lalu, seakan seperti rol film yang terus berputar mengkisahkan sebuah cerita. Bayangan mengerikan itu seakan terlihat jelas olehnya, bayangan dimana kedua orangtuanya dibunuh di depan matanya.
Tubuh Nayla bergetar dan ia mengeratkan pegangannya pada payung hitamnya. Hari yang seharusnya menjadi hari yang indah karena pada hari itu ia genap berumur delapan tahun menjadi hari yang kelam dan penuh darah.
“Tidak perlu menangis, kalian akan mati di tanganku.” Suara itu terngiang jelas di telinga Nayla.
Nayla kecil menutup mulutnya dengan kedua tangannya, air matanya terus mengalir. Tubuhnya bergetar di tempat persembunyiannya. Ia ingin keluar dan memeluk kedua orang tuanya atau setidaknya ia akan berteriak ‘Tolong, jangan bunuh kedua orangtuaku,’ tapi ia tidak bisa melakukannya. Ia telah berjanji pada ayahnya tidak akan keluar sebelum ayahnya yang menyuruhnya keluar.
‘Dooorr!!!!’
Nayla hampir memecahkan tangisannya ketika melihat Ayahnya melalui celah-celah lemari terkapar di lantai dengan darah yang mulai mengenang di sekitarnya.
“Suamiku!!” Teriakan memilukan keluar dari bibir Ibu Nayla, ia memeluk erat tubuh suaminya yang bersimbah darah tanpa peduli darah itu kini menempel di tubuhnya. “Bajingan kau! Teganya kau membunuh suamiku!”
“Kau tidak perlu khawatir karena sebentar lagi kau juga akan menyusulnya.” Ucap laki-laki yang tidak jauh berdiri dari orangtuanya dengan tawa yang mengerikan. Kemudian suara tembakan kembali terdengar memekakkan telinga.
Semenjak saat itu Nayla tidak pernah melihat kedua orangtuanya lagi, kado terburuk dihari ulangtahunnya.
Nayla mengepalkan tangannya yang menggantung, ia gigit bibirnya menahan rasa sakit itu. Tanggal yang sama dengan tahun yang berbeda ia kembali kehilangan satu-satunya keluarganya, sang Paman. Pamannya juga mati tepat di hadapannya sama seperti kedua orangtuanya.
“A-apa yang kau lakukan?” Wajah ketakutan sang Paman terekam jelas di ingatannya.
“Membalas semua dosa-dosamu.”
“A-apa maksudmu?” ucap Paman Nayla.
“Jangan berpura-pura sok suci, Johan.” Gadis itu menyeringai lebar.
“Kau... akkhhh!!” Satu sayatan muncul di tubuh Johan. “K-kau monster!”
“Lalu apa bedanya denganmu?” Gadis itu kembali menyayat bagian tubuh lain Johan. “Kau bahkan lebih kejam dariku.” Entah darimana munculnya, kini botol cuka ada di tangan gadis tersebut. “Akan lebih menyenangkan jika bermain-main dengan tubuhmu terlebih dahulu.” Ia menyiram air cuka tersebut ke luka-luka sayatan yang baru di buatnya.
“Aakkhh!! Brengsek! Lepaskan aku!” Teriak Johan kesakitan.
“Melepaskanmu dan lalu membunuhku? Kau kira aku bodoh?” Gadis itu tersenyum licik, ia kembali membuat luka baru di tubuh Johan.
“Apa yang kau inginkan bocah sialan?!” Teriaknya frustasi.
“Tidak banyak.” Gadis itu memainkan belatinya tepat di dada kiri Johan. Tempat dimana jantungnya berdetak cepat. “Ugh, sepertinya kau sangat ketakutan. Aku jadi semakin ingin menyiksamu lebih lagi.” Ia tertawa pelan.
“J-jangan, kumohon.” Johan tidak lagi menyembunyikan rasa takutnya. Ia menatap penuh harap pada gadis di hadapannya.
“Uuuh, kau kira aku akan luluh dengan tampangmu ini hm?” Gadis itu mengoncang-goncangkan wajah Johan pelan.
“J-jangan bunuh aku, kumohon.” Johan mulai menangis pelan.
“Tidak perlu menangis, kau akan mati di tanganku.” Johan tersentak mendengar kalimat itu. “Kenapa? Kau terkejut?”
“K-kau...” matanya membulat lebar kala sebuah belati mulai menusuk kulit dadanya melewati tulang rusuknya dan menabrakkan ujung runcing itu tepat di jantungnya.
Gadis itu mulai memutar belatinya sehingga membentuk lubang di dada Johan dan darah mengucur deras dari lubang itu. Mata Johan mulai terpejam perlahan, kulitnya pucat karena kehabisan darah, dan dia menghembuskan napas terakhirnya.
Hujan masih turun dengan deras dan Nayla masih berdiri di tempatnya, membayangkan apa yang telah terjadi dalam hidupnya. Ayah, Ibu, dan Pamannya mati dalam sebuah pembunuhan. Ia menarik sudut bibirnya membentuk sebuah seringaian.
“Aku membalaskan dendam kalian, Ayah, Ibu.” Kemudian ia berjalan meninggalkan pemakaman dan menghampiri kekasihnya yang telah menunggu di luar gerbang masuk.
“Ya. Aku adalah saksi pembunuhanmu, Paman.” Gadis itu tersenyum miring. “Senang akhirnya kau mengetahuinya.” Nayla menarik belati yang di penuhi cairan kental berwarna merah pekat tersebut. “Kuharap kau tidak menyesal telah membesarkan seorang psikopat.” Nayla membersihkan semua hasil perbuatannya. Kemudian ia membakar gudang yang tidak terpakai itu lagi, membuat semuanya seolah-olah seperti kecelakaan.
“Maaf membuatmu menunggu lama.” Nayla tersenyum ke arah Roy. “...dan terima kasih untuk bantuanmu selama ini.”
“Dia pantas mendapatkannya sayang.” Roy tersenyum begitupun Nayla, dan mereka pergi meninggalkan tempat pemakaman tersebut.

END


Fiksi Mini: Dia Yang Telah Pergi

Dia Yang Telah Kembali
Oleh: Heldiana (AceFanFan)

Matahari senja tidak begitu menarik perhatianku sejak kehadirannya. Kami masih saling menatap satu sama lain seolah menyampaikan suatu rasa yang tidak akan mampu terungkap dengan kata-kata. Aku tersenyum begitu juga dengan dia.
“Lama tidak bertemu.” Ucapnya memecahkan keheningan yang sempat terjadi diantara kami.
Aku tidak menjawabnya, hanya tersenyum sebagai jawaban. “Bagaimana keadaanmu?” tanyanya kembali.
“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Kau sendiri?”
“Aku? Yeah, aku sedang tidak baik-baik saja.” Aku menautkan kedua alisku dan setelahnya dia tertawa terbahak-bahak. “Kau masih seperti yang dulu, Ren. Aku hanya bercanda.” Kembali aku merasakan tangan itu mengusak rambutku. Hal yang sudah lama tidak pernah kurasakan lagi semenjak ia memilih pergi meninggalkan aku.
“Adit! Kau ini selalu saja membuat orang khawatir.” Ucapku sedikit kesal karena rambutku yang berantakan olehnya.
“dan kau selalu saja mengkhawatirkan orang lain.”
“Baiklah, aku tidak akan mengkhawatirkanmu lagi.” Ucapku sedikit kesal. Kenapa aku kesal? Tentunya karena dia selalu menyembunyikan sesuatu dariku, bahkan tentang sesuatu yang membuat hatiku nyeri jika mengingatnya.
“Hei, jangan ngambek dong. Aku tidak keberatan jika kau mengkhawatirkanku.” Dia kembali tersenyum. Senyum yang dulu selalu diberikannya hanya untukku.
Aku berbalik membelakanginya untuk menutupi pipiku yang terasa semakin panas. Mungkinkah dia akan kembali lagi untukku? Aku merasakan jaket hangat menutupi bahuku, dan kulirik ke samping Adit kembali menyunggingkan senyum itu.
“Hari sudah semakin gelap. Ayo pulang, aku akan mengantarmu ke rumah.”
“Terima kasih.” Ucapku menunduk dan berjalan mengekorinya.
Hening terasa begitu aku memasuki mobilnya, bahkan ketika mobil mulai berjalan hanya deru mobil yang mengisi di setiap keheningan yang tercipta.
“Adit...” Ucapku memecahkan keheningan dan jari-jariku lebih menarik perhatianku daripada Adit yang kurasa saat ini sedang menatapku. “Bagaimana kabar kekasihmu?” lanjutku.
Kulirik ia dengan ekor mataku dan kudapati reaksi tubuhnya menegang sejenak kemudian ia tersenyum kembali.
“Kurasa dia baik-baik saja. Kami sudah berakhir.” Aku mencoba untuk menatapnya dan kurasakan ada yang lain dari senyumannya.
“Kau baik-baik saja? Maaf jika pertanyaanku mengganggumu.” Aku kembali menunduk.
“Tidak apa-apa Reny, jangan khawatirkan aku.”
Suasana kembali hening dan Adit memilih untuk menatap jalanan walaupun kutahu sebenarnya ia tidak fokus dengan apa yang di tatapnya. Aku menghela napas pelan.
“Dit, bolehkah aku menyembuhkan luka itu lagi?” Entah kenapa pertanyaan itu meluncur sendiri dari bibirku dan aku menyesal telah bertanya hal itu.
Adit menghentikan laju mobilnya, dia tidak mengatakan apapun dan kurasakan sepasang lengan kokoh memelukku erat. Aku menahan napas sejenak, jantungku berdetak lebih cepat, dan tanganku terangkat untuk membalas pelukannya.
“A-aku...aku minta maaf. Maaf untuk rasa sakit itu, maaf karena aku lebih memilih dia, dan aku juga tidak bisa membohongi perasaanku sendiri.” Aku tidak mengatakan apa-apa selain mengusap punggungnya pelan. “D-dia pergi seperti aku pergi darimu. D-dia meninggalkanku.”
Hatiku kembali merasakan sakit, luka itu kembali menganga lebar, kenangan itu kembali berputar-putar di kepalaku. Saat dimana Adit memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami dan mengatakan bahwa dia telah mencintai orang lain jauh sebelum kami bertemu. Aku tidak kuat untuk menahan rasa sakit itu lagi, aku ingin dia tau bahwa aku sangat tersiksa dengan rasa sakit itu. Tapi, aku tidak mungkin mengatakannya disaat ia sedang terpuruk begini. Mungkinkah ini karma untuknya?
Aku menangis, menangis bersamanya, menangisi rasa sakit di hati masing-masing, dan hujan mulai berjatuhan membasahi bumi. Aku tidak peduli jika bajunya basah karena air mataku, kali ini aku ingin egois. Aku ingin menumpahkan rasa sakitku dalam pelukannya, pelukan yang dulu selalu menenangkanku.


END