Just
Friend
Oleh : Heldiana (AceFanFan)
Yuli
memperhatikan Nissa yang sejak tadi
menatap lurus kedepan, lebih tepatnya menatap punggung Andi yang duduk membelakangi mereka berdua.
“Nis,
kamu liat apa sih? Dari tadi pandangan kamu lurus kedepan?” tanya Yuli menyikut
lengan Nissa.
Nissa
menoleh kearah Yuli. “gak ada kok, Yul.” Ucapnya menggeleng. “Yul, kamu ngerasa
gak sih kalau Andi sering banget liatin kesini?
Aku sering mergoki dia, dan dia langsung ngalihin pemandangannya kalau
udah kepergok.” Yuli mengerutkan alisnya. “Dia juga sering senyum kearah aku,
jangan-jangan Andi suka lagi sama aku.” Lanjut Nissa.
Yuli
hampir tersedak dengan air liurnya sendiri dan menatap horror kearah Nissa. “Maksud
kamu apa Nis?”
“aah,
lupain aja. Oya, tugas yang di kasih Bu Erna udah siap belum? Aku minta ya?”
Nissa mengerjab-ngerjabkan matanya memohon.
Yuli
memutar bola matanya malas dan melempar buku tugasnya yang baru ia keluarkan
dari dalam tasnya di depan Nissa.
“baik
banget.” Nissa langsung mengambil buku itu dan menyalinnya di bukunya.
Yuli
duduk di halte tempat biasa dia menunggu bus sekolah sambil tangannya sibuk
mengetik pesan-pesan singkat entah dengan siapa. Kadang Yuli tersenyum membaca
balasan pesan-pesan itu kemudian ia mengetik pesan singkat lagi untuk membalas
pesan dari seseorang. Bus sudah berhenti tepat di hadapan Yuli, ia bergegas
masuk ke dalam bus sekolah dan di sambut oleh teriakan Nissa.
“YULI!!!”
Nissa menarik Yuli duduk didekat sopir bus. Sang sopir Cuma tersenyum mendengar
teriakan Yuli. Ini sudah biasa sang sopir karena memang setiap pagi Nissa akan
berteriak-teriak tidak jelas di dalam bus, kadang juga dia sering di tegur oleh
penghuni bus lainnya.
“Yuli,
aku mau cerita sesuatu sama kamu.”
“Mau
cerita apa?” Yuli yang tadinya sibuk dengan ponselnya mengalihkan pandangannya
kearah Nissa.
“Semalam
aku di tembak Andi.” Yuli membulatkan matanya terkejut, mulutnya menganga
lebar.
“Kok
bisa?” tanya Yuli yang justru mendapat kerutan di alis Nissa.
“Kamu
kok nanyanya gitu? Seharusnya kamu tanya ‘kamu terima dia gak?’ bukannya ‘kok
bisa?’” Nissa mengerucutkan bibirnya.
“Oke!
Oke! Oke! Kamu terima dia gak?”
“Aku
belum jawab.” Nissa menggelengkan kepalanya. “soalnya semalam aku gak punya
pulsa.” Lanjut Nissa yang langsung ngebuat Yuli seakan-akan pengen ngelempar
Nissa keluar bus.
Sopir
bus yang dari tadi mendengar perbincangan mereka menoleh kearah mereka berdua.
“seharusnya minta sama dia aja pulsanya.”
“Gak
mungkin, Pak. Dia teman sekelas saya, mau di taruh dimana muka saya kalau minta
pulsa sama dia. Entar di kiranya saya gak mampu buat isi pulsa sendiri.”
“Emang
gak mampu, kan? Hahaha.” Goda Sang sopir. Nissa merengut kesal. “saran Bapak
nih ya, mending gak usah di terima aja.”
“Kenapa
gitu, Pak?”
“Dia
itu kan teman sekelas kamu, gak enak nantinya. Pasti sering di ledekin sama
teman-temannya kalau sampai ketauan. Apalagi kalau udah putus pasti rasanya
canggung banget, apalagi kalau samapai musuhan. Kan gak enak kalau musuhan sama
teman kelas sendiri.”
“Iya
juga sih, Pak. Jadi saya harus gimana Pak?”
“Jadi teman dekat aja. Pacar itu bisa putus tapi
kalau teman itu gak ada yang namanya putus. Kalau emang udah cinta banget nikah
aja.”
“Hush,
Bapak! Kita ini masih mau sekolah yang tinggi Pak.” Ucap Yuli yang dari tadi
diam mendengar ucapan sang sopir dan temannya Nissa.
“Hahahaha,
bagus kalau kayak gitu. Pacaran jangan di jadikan prioritas utama.”
“Iya
Pak!” ucap mereka berbarengan.
“Andi,
aku mau ngomong sama kamu?” Yuli berdiri di depan meja Andi.
“Mau
ngomong apa sayang?”
“Iisssh,
gak usah panggil-panggil ‘sayang’ di sekolah.”
“Hehehehe.
Emang mau ngomong apa sih?”
“Aku
mau kita putus!” ucap Yuli menundukkan kepalanya sambil memainkan jari-jari
tangannya.
“P-pu-putus?
Tapi kenapa?”
“Semalam
kamu nembak Nissa, kan? Mau kamu apa sih? Nissa itu teman dekat aku.” Yuli
mengangkat wajahnya menatap Andi.
“Nembak?
Pakek pistol maksudnya? Hahahaha.” Andi justru tertawa membuat Yuli sedikit
kesal dan menginjak kaki Andi. “Aaawww!!!” rintih Andi.
“Aku
gak lagi becanda Andi!!” geram Yuli.
“Oke!
Oke! Oke! Semalam aku gak nembak Nissa. Beneran deh, di cium orang gila pun aku
rela.” Andi mengacungkan jari tengan dan telunjuknya membentuk huruf V.
“Apaan
sih kamu?! Entar di cium beneran looh.”
“Kan
kalau aku bohong di cium.” Andi mencolek dagu Yuli membuat Yuli melotot
kearahnya. “Kalau kamu minta putus cuma gra-gara itu aku gak mau. Lagian
semalam aku cuma ngirim kata-kata gombalan. Yaaah, maksud aku cuma mau minta
pendapat dia cocok gak kalau gombalan itu ku kirim untuk kamu. Tapi dianya
malah gak ngebalas pesan aku. Masa Cuma gara-gara itu aku di bilang nembak dia
sih? Teman kamu kegeeran banget!”
Yuli
mencubit lengan Andi. “Kamu juga salah, tiap hari kamu sering ngelirik dia,
kan?”
“aku
gak ngelirik dia, aku ngelirik kamu dan selalu kepergok dia. Itu yang benar!”
“serah
deeh, pokoknya kau mau putus!”
“tapi
aku gak mau!” Andi melipat kedua tangannya di depan dadanya.
“tapi
aku belum siap nikah, Andi! Aku ingin sekolah yang tinggi, ngebanggain orang
tua, dan masih banyak yang ingin aku lakuin.” Yuli berkacak pinggang.
“yang
ngajak kamu nikah siapa? Kita kan cuma pacaran?!”
“jadi
kamu gak cinta sama aku?”
“eh?
Bukan gitu!”
“sopir
bus bilang, pacaran itu gak ada manfaatnya. Kalau emang udah cinta langsung
nikah aja. Dan kamu gak cinta sama aku.” Yuli merengut membuat Andi kembali
tertawa.
“ahahahahaha,
kamu kok polos banget sih? Emang kamu mau nikah sekarang?” Yuli menggeleng.
“naah kan, kamu aja belum siap. Jadi alasan kamu minta putus Cuma itu?” Yuli
mengangguk. “bukan karena gara-gara aku rumor
nembak Nissa?” yuli menggeleng. “oke, aku mau kita putus, tapi dengan
syarat!”
“apa
syaratnya?”
“kita
masih tetap berteman, kan?”
“itu
pasti!”
“oke!”
Andi merangkul Yuli. “teman boleh
melakukan apapun pada temannya, kan?”
“gak
semuanya Andi.”
“temenin
aku makan! Aku lapar. Sebagai teman yang baik tidak boleh menolak.”
Yuli
menghela nafas pelan. “oke! Kamu yang traktir. Sebagai teman yang baik tidak
boleh menolak.” Yuli mengulang kata-kata Andi dan tersenyum puas melihat Andi
sedikit kesal. Hei, ini masih terlalu pagi untuk mentraktir seorang teman. Tapi
tidak apa-apa juga selama dia tidak rakus di kantin nanti.
“kau
tidak rakus, kan?”
“tentu
tidak! Tapi aku sedang lapar, jadi aku akan menghabiskan semua makanan yang ada
di kantin.”
“kau
ingin membuatku brangkrut?!”
“hahahahaha,
teman tidak setega itu.”
“haaah,
syukurlah. Setidaknya jika kau melakukan itu, kau harus bayar sendir.”
“kau
bilang ingin mentraktirku?!”
“aku
tidak ingin mentraktirmu, tapi kau yang minta di traktir.”
“terserah
kau sajalah.”
“hahahahaha.”
Mereka terus bercanda di sepanjang jalan menuju kantin. Ya, begitulah teman.
Tidak ada rasa sungkan untuk melakukan hal apapun bersama.
END