Rabu, 24 Juni 2015

Cerpen: Teman Hidup


Teman Hidup
Oleh: Heldiana (AceFanFan)

Bagaimana rasanya memendam perasaan selama setahun lebih? Tidak menyenangkan, bukan? Tapi begitulah yang di rasakan oleh Nadira. Sudah satu tahun ia memendam perasaannya pada Randy. Walaupun mereka berada di kelas yang sama, namun Nadira dan Randy tidak pernah bertegur sapa. Entah siapa yang memulainya, semakin Randy mengabaikan Nadira justru semakin dalam perasaan Nadira terhadap Randy.
“Ran.. Ran.. kayak anak kecil aja main pesawat kertas.” Tegur Hari ketika menyaksikan Randy dengan pesawat kertasnya.
Randy menoleh sekilas kearah Hari, kemudian ia mulai menerbangkan pesawat kertasnya dan mendarat mulus di pangkuan Nadira. Nadira mengerutkan alisnya dan melihat kebelakang. Dia mendapati Randy yang sedang tersenyum kearahnya. Buru-buru Nadira bangkit dari kursinya dan berjalan keluar kelas. Ia tak ingin Randy melihat wajahnya yang seperti tomat siap panen itu.
‘Ya Tuhan! Aku tidak percaya dia tersenyum kearahku.’ Batin Nadira.
Ia duduk di depan kelasnya sambil tersenyum aneh seperti orang gila. Dan ketika Randy keluar dari kelas, buru-buru Nadira memalingkan wajahnya supaya Randy tak melihatnya.
“Kamu kenapa, Ra?” tanya Kevin yang duduk di hadapannya.
“eoh? Ke-Ke-Kevin? Kyaaa!!” teriak Nadira terkejut.
“yaaakk!!” Kevin langsung membungkam mulut Nadira dengan tangannya. “pelankan suaramu.” Lanjutnya.
“maaf.” Nadira menunduk.
“ada apa ini?” Entah kapan datangnya, tiba-tiba bu Maya selaku guru BP berdiri di hadapan mereka.
“B-bu Maya?” Kompak mereka.
“apa yang kamu lakukan pada Nadira, Kevin?”
“Eng-enggak ada kok, bu. Iya kan, Nadira?” Kevin menatap kearah Nadira.
“iya bu, kami enggak ngapa-ngapain kok.” Nadira mengangguk menyetujui perkataan Kevin.
“kalian berdua keruangan ibu, sekarang!” dan setelah kalimat terakhirnya di lontarkan, bu Maya pun pergi meninggalkan dua orang muridnya.
“kamu sih teriak-teriak.” Kevin menyenggol bahu Nadira.
“gara-gara kamu juga sih pakek acara muncul tiba-tiba kayak setan.”
“siapa suruh ngelamun?”
“siapa yang ngelamun?”
“siapa ya?”
“hadeeuuhh, cepetan jalan. Entar bu Maya marah lagi.” Mereka berdua berjalan keruang bu Maya.
Setelah di beri nasehat panjang lebar, Kevin dan Nadira harus menjalani hukuman, yaitu membersihkan toilet pria dan wanita.
“kev, capek niiih.” Keluh Nadira.
“bukan kamu aja, aku juga capek tau.”
“istirahat aja yuukk!” usul Nadira dengan mata berbinar-binar, berharap temannya yang satu ini mau menyetujui sarannya.
“tanggung niiih. Bentar lagi juga kelar. Lagian kamu mau di tambah lagi hukumannya sama bu Maya?”
Nadira kembali murung. “tapi aku haus..” rengeknya.
“yaudah, cepat selesaikan ini agar kamu bisa cepat-cepat minum.”
“aku gak kuat.” Nadira memasang wajah memelas. Kevin hanya menggelengkan kepalanya menyaksikan teman kelasnya yang satu ini.
“ini, minumlah.” Seseorang menyodorkan sebotol air mineral kepada Nadira.
Nadira mendongakkan kepalanya. “Putra?”
“kamu kan lelah. Minmulah ini.” Putra tersenyum ramah.
“thanks, Put.” Nadira balas tersenyum.
Putra mengangguk, kemudian ia keluar dari toilet. Setelah kepergian Putra, wajah Nadira langsung berubah 180°.
“kenapa enggak di minum? Katanya haus?” bingung Kevin.
“ini, untuk kamu aja.” Nadira menyerahkan minumannya kepada Kevin.
“waaah, kebetulan.” Kevin langsung meneguk air tersebut sepuasnya.
“huuuwaaaa” tangis Nadira.
“lho..lho.. kamu kenapa, Nad?”
“kenapa harus Putra? Aku maunya Randy yang ngasih minumnya. Huuuaaa”
“yaelah Nad. Cuma gara-gara itu aja kamu segitu hebohnya.”
“kamu gak ngerti, Kev. Kan kamu enggak suka sama cowok.”
“emang aku apaan? Istigfar, Nad.”
“ini toilet.”
“yaudah, di luar aja istigfarnya.”
“yaudah deh.” Dengan bibir yang sedikit di manyunkan, Nadira keluar dari toilet. “yang bersih ya, Kev.” Petuahnya sebelum pergi.
“iya.” Jawab Kevin singkat dan kembali melanjutkan aktivitasnya. “lho?! Nadira!!!” teriak Kevin sadar.
Nadira kembali kekelasnya. Baru saja ia duduk di tempatnya, tiba-tiba Liza berlari Nadira.
“eh Nad, tau enggak?” tanya Liza dengan nafas tak beraturan.
“enggak. Kan kamu belum cerita.”
“ooh, iya. Aku lupa. Tadi Randy baru jadian sama Ayu di kantin. Co cuiit banget deh pokoknya.” Jelas Liza.
“mereka jadian?” tanya Nadira terkejut. “bagaimana mungkin? Bukannya waktu itu Ayu nolak Randy?”
Liza mengangkat kedua bahunya. “dan lagi, kali ini Ayu yang nembak Randy duluan. Walaupun begitu Randy nerima Ayu sambil berlutut. Pengen deh punya cowok seromantis Randy.”
“bukan kamu aja, Za. Aku juga menginginkan dia.” Lirih Nadira pelan sebelum akhirnya dia membenamkan wajahnya di atas meja.

Sudah beberapa hari ini, Nadira terlihat tidak bersemangat sama sekali. Mungkin semua gara-gara informasi yang di berikan Liza beberapa hari lalu.
“hei, ratu manyun.” Kevin berdiri di hadapan Nadira.
“apa?” jawabnya malas.
“kau sakit?” Kevin menyentuh kening Nadira dengan telapak tangannya. “tapi, tubuhmu tidak panas.” Lanjutnya lagi.
“aku sakit hati!” ketus Nadira mencoba menjauh dari Kevin.
“mau kemana? Ini kan jam olahraga!”
Nadira berhenti dan berbalik arah menghadap Kevin. “aku  mau ke UKS”
Kevin berjalan mendekati Nadira. “aku titip jam tanganku, ya? Soalnya aku mau main voly.” Kevin memberikan jam tangannya kepada Nadira.
“ciiiee.. ada yang lagi pacaran di siang bolong niih.” Goda Susan.
“waaahhh, jadi kalian berdua udah resmi pacaran?” nimbrug Yana.
“apaan sih? Enggak kok. Kami sama sekali enggak pacaran.”
“aku dapat fakta baru. Ternyata Nadira diam-diam menghanyutkan.” Tambah Fitri.
“kalian ini, enggak…enggak..enggak..” sanggah Nadira.
“perhatiin deh, wajah Nadira udah merah padam tuuh.” Cita menunjuk kearah wajah Nadira.
“aduh Nad, ngaku ajan deh.”
“enggaakk!!! Keviinn!!”
“ahahaha. Titip,ya.” Kevin langsung berlari ketengah lapangan meninggalkan Nadira dengan wajah yang seperti kepiting rebus.
Ketika sampai di UKS, Nadira merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur yang ada di UKS.
“Nadira!!” panggil Liza.
Nadira yang mulai memejamkan matanya tak menghiraukan panggilan teman super bawelnya itu.
“Nadiraa!!” Liza menggoyang-goyangkan tubuh Nadira.
“apasih?” akhirnya dengan malas Nadira duduk bersila di atas ranjang.
“gosip yuuk!!” ajak Liza sambil mengedip-kedipkan matanya.
“kamu samperin aku kesini cuma buat ngegosip aja? Enggak aah. Lagian kenapa tuh sama mata kamu? Kelilipan, ya??”
“aarrgghhhh!! Nadira!!!” teriak Liza frustasi dan mendapat teguran dari guru penjaga UKS.
“mending kamu keluar aja deh. Aku mau istirahat.” Nadira mengusir Liza secara lembut.
“Nadira, kamu enggak kemana-mana, kan? Ibu mau keluar sebentar.”
“iya, bu.” Setelah guru tersebut keluar, Nadira kembali merebahkan tubuhnya dan mencoba memjamkan matanya. Namun, ia merasa seperti ada seseorang yang masuk. Nadira membuka sedikit matanya dan mendapati sesosok pria yang membuatnya tak bersemangat beberap hari ini. Siapa lagi kalau bukan Randy. Melihat Randy, Nadira refleks membalikkan tubuhnya membelakangi Randy.
‘ya Tuhan! Kenapa tuh anak malah kesini? Apa terjadi sesuatu ya sama dia? Lihat, enggak. Lihat, enggak. Aah, aku bingung.’ Batin Nadira.
“Nadira..” lirih Randy. Nadira berpura-pura tak mendengarnya. “kamu tidur, ya? Padahal aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” Randy sedikit kecewa, namun tiba-tiba…
“mau bilang apa?” mendengar kalimat terakhir Randy, membuat Nadira kembali bersemangat dan langsung bangun dari tidurnya.
Randy menatap aneh kearah Nadira.
“katanya mau bilang sesuatu? Mau bilang apa?” Nadira bertanya dengan memasang wajah terimutnya. Jantungnya berdegup kencang, karena ini adalah pertama kalinya Randy mengajaknya bicara.
“bukannya kamu lagi tidur,ya?” tanya Randy bingung.
“eoh? Hehehehe.” Nadira menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia jadi salah tingkah.
“kudengar, kau dan Kevin sudah resmi berpacaran. Benarkah itu?”
“darimana kau mendengarnya?”
“dari anak-anak.”
“tidak. Itu tidak benar. Meeka semua salah paham. Tolong percayalah padaku”
“bagaimana kalau aku tidak percaya?”
“kau harus percaya.” Nadira mencoba meyakinkan Randy.
Randy tersenyum. “temui aku di gudang belakang sekolah sepulang sekolah nanti.” Dan setelah itu, Randy meninggalkan Nadira dengan sebuah pertanyaan besar.

Sesuai dengan apa yang di katakan Randy, Nadira menunggu Randy di gudang belakang sekolah.
“kau menunggu lama?” Randy muncul di hadapan Nadira.
Nadira menggeleng pelan. Mereka berdua sama-sama terdiam dalam waktu yang cukup lama, hingga akhirnya Randy memulai pembicaraan.
“jadi benar, kau dan Kevin tidak ada hubungan?”
“kami hanya sebatas teman.”
“syukurlah, kalau begitu.”
Nadira menoleh kearah Randy. Randy balik menatap Nadira. “aku menyukaimu!” ucap Randy.
Nadira menautkan alisnya. “kau bercanda?”
“apa aku terlihat seperti sedang bercanda?”
“tapi, kau kan berpacaran dengan Ayu?”
“memang. Tapi, itu hanya sebagai balas dendam, karena dia sudah pernah menolakku di depan orang banyak dan membuatku malu. Beberapa hari sesudah itu, aku tak sengaja melihat bukumu dan membaca satu kalimat yang menarik perhatianku ‘aku tak berharap dia menyukaiku, cukup dengan dia menganggapku sebagai temannya itu sudah cukup bagiku’. Dan mulai saat itu aku mulai memperhatikanmu, dan itu sangat menyenangkan sekali. Terlebih lagi setelah aku tau siapa yang kau maksud itu.”
“kau jadi seorang penguntit?” Randy hanya tersenyum. “lalu bagaimana dengan Ayu sekarang?”
“dia? Aku sudah mengakhiri hubungan kami sehari yang lalu?”
“sesingkat itukah?”
“aku tidak menyukainya. Lagi pula aku hanya akan menyukai satu orang. Dia yang akan menjadi kekasih hatiku dan teman hidupku, kelak. Besok aku akan Irlandia, orang tuaku memindahkan aku kesana. Jaga dirimu baik-baik. Tunggu aku, dan kita akan bertemu di tempat ini 5 tahun lagi. Ini sebagai pengikat antara kamu dan aku. Kita berdua sekarang adalah teman.” Randy memberikan sebuah cincin kepada Nadira, dan setelah itu ia keluar dari gudang.


5 tahun kemudian.
Nadira berjalan masuk kesekolah yang menyimpan banyak kenangan indah tentang dirinya. Ia berjalan kearah gudang dan masuk kedalamnya.
“aku tidak menyangka tempat ini telah berubah sedemikian bagusnya.” Mata Nadira berbinar-binar menyaksikan gudang yang dulunya penuh debu dan tak pernah terawat  kini bahkan lebih bagus dari yang ia bayangkan. “Randy pasti senang melihatnya.”
Tiba-tiba sesuatu dari belakang menutup indra penglihatannya. Nadira meraba-raba tangan yang menutup matanya.
“kau sudah kembali?” tanpa harus membuka matanya, Nadira tau siapa itu.
“aku hanya ingin menepati janji seorang teman.” Randy kini berdiri di hadapan Nadira. Ia melepaskan cincin yang selama ini melingkar di jari manis Nadira. Ia berlutut di depan Nadira. “aku memilihmu sebagai teman hidupku. So, would you marry me?”
Nadira hanya tersenyum. “apa yang harus ku jawab?”
“ya atau tidak!”
“dari dulu hatiku memang sudah memilihmu. Yes, I would!” jawab Nadira tegas.
Randy mencium tangan lembut itu dan memasangkan cincin emas di jari manis yang sama, kemudian Randy memeluk Nadira erat.

END


Tidak ada komentar:

Posting Komentar