Teman Hidup
Oleh:
Heldiana (AceFanFan)
Bagaimana
rasanya memendam perasaan selama setahun lebih? Tidak menyenangkan, bukan? Tapi
begitulah yang di rasakan oleh Nadira. Sudah satu tahun ia memendam perasaannya
pada Randy. Walaupun mereka berada di kelas yang sama, namun Nadira dan Randy
tidak pernah bertegur sapa. Entah siapa yang memulainya, semakin Randy
mengabaikan Nadira justru semakin dalam perasaan Nadira terhadap Randy.
“Ran.. Ran..
kayak anak kecil aja main pesawat kertas.” Tegur Hari ketika menyaksikan Randy
dengan pesawat kertasnya.
Randy menoleh
sekilas kearah Hari, kemudian ia mulai menerbangkan pesawat kertasnya dan
mendarat mulus di pangkuan Nadira. Nadira mengerutkan alisnya dan melihat
kebelakang. Dia mendapati Randy yang sedang tersenyum kearahnya. Buru-buru
Nadira bangkit dari kursinya dan berjalan keluar kelas. Ia tak ingin Randy
melihat wajahnya yang seperti tomat siap panen itu.
‘Ya Tuhan! Aku
tidak percaya dia tersenyum kearahku.’ Batin Nadira.
Ia duduk di
depan kelasnya sambil tersenyum aneh seperti orang gila. Dan ketika Randy
keluar dari kelas, buru-buru Nadira memalingkan wajahnya supaya Randy tak
melihatnya.
“Kamu kenapa,
Ra?” tanya Kevin yang duduk di hadapannya.
“eoh?
Ke-Ke-Kevin? Kyaaa!!” teriak Nadira terkejut.
“yaaakk!!” Kevin
langsung membungkam mulut Nadira dengan tangannya. “pelankan suaramu.”
Lanjutnya.
“maaf.” Nadira
menunduk.
“ada apa ini?”
Entah kapan datangnya, tiba-tiba bu Maya selaku guru BP berdiri di hadapan
mereka.
“B-bu Maya?”
Kompak mereka.
“apa yang kamu
lakukan pada Nadira, Kevin?”
“Eng-enggak ada
kok, bu. Iya kan, Nadira?” Kevin menatap kearah Nadira.
“iya bu, kami
enggak ngapa-ngapain kok.” Nadira mengangguk menyetujui perkataan Kevin.
“kalian berdua
keruangan ibu, sekarang!” dan setelah kalimat terakhirnya di lontarkan, bu Maya
pun pergi meninggalkan dua orang muridnya.
“kamu sih
teriak-teriak.” Kevin menyenggol bahu Nadira.
“gara-gara kamu
juga sih pakek acara muncul tiba-tiba kayak setan.”
“siapa suruh
ngelamun?”
“siapa yang
ngelamun?”
“siapa ya?”
“hadeeuuhh,
cepetan jalan. Entar bu Maya marah lagi.” Mereka berdua berjalan keruang bu
Maya.
Setelah di beri
nasehat panjang lebar, Kevin dan Nadira harus menjalani hukuman, yaitu
membersihkan toilet pria dan wanita.
“kev, capek
niiih.” Keluh Nadira.
“bukan kamu aja,
aku juga capek tau.”
“istirahat aja
yuukk!” usul Nadira dengan mata berbinar-binar, berharap temannya yang satu ini
mau menyetujui sarannya.
“tanggung niiih.
Bentar lagi juga kelar. Lagian kamu mau di tambah lagi hukumannya sama bu
Maya?”
Nadira kembali
murung. “tapi aku haus..” rengeknya.
“yaudah, cepat
selesaikan ini agar kamu bisa cepat-cepat minum.”
“aku gak kuat.”
Nadira memasang wajah memelas. Kevin hanya menggelengkan kepalanya menyaksikan
teman kelasnya yang satu ini.
“ini, minumlah.”
Seseorang menyodorkan sebotol air mineral kepada Nadira.
Nadira
mendongakkan kepalanya. “Putra?”
“kamu kan lelah.
Minmulah ini.” Putra tersenyum ramah.
“thanks, Put.”
Nadira balas tersenyum.
Putra
mengangguk, kemudian ia keluar dari toilet. Setelah kepergian Putra, wajah
Nadira langsung berubah 180°.
“kenapa enggak
di minum? Katanya haus?” bingung Kevin.
“ini, untuk kamu
aja.” Nadira menyerahkan minumannya kepada Kevin.
“waaah,
kebetulan.” Kevin langsung meneguk air tersebut sepuasnya.
“huuuwaaaa”
tangis Nadira.
“lho..lho.. kamu
kenapa, Nad?”
“kenapa harus
Putra? Aku maunya Randy yang ngasih minumnya. Huuuaaa”
“yaelah Nad.
Cuma gara-gara itu aja kamu segitu hebohnya.”
“kamu gak
ngerti, Kev. Kan kamu enggak suka sama cowok.”
“emang aku
apaan? Istigfar, Nad.”
“ini toilet.”
“yaudah, di luar
aja istigfarnya.”
“yaudah deh.”
Dengan bibir yang sedikit di manyunkan, Nadira keluar dari toilet. “yang bersih
ya, Kev.” Petuahnya sebelum pergi.
“iya.” Jawab
Kevin singkat dan kembali melanjutkan aktivitasnya. “lho?! Nadira!!!” teriak
Kevin sadar.
Nadira kembali
kekelasnya. Baru saja ia duduk di tempatnya, tiba-tiba Liza berlari Nadira.
“eh Nad, tau
enggak?” tanya Liza dengan nafas tak beraturan.
“enggak. Kan
kamu belum cerita.”
“ooh, iya. Aku
lupa. Tadi Randy baru jadian sama Ayu di kantin. Co cuiit banget deh pokoknya.”
Jelas Liza.
“mereka jadian?”
tanya Nadira terkejut. “bagaimana mungkin? Bukannya waktu itu Ayu nolak Randy?”
Liza mengangkat
kedua bahunya. “dan lagi, kali ini Ayu yang nembak Randy duluan. Walaupun
begitu Randy nerima Ayu sambil berlutut. Pengen deh punya cowok seromantis
Randy.”
“bukan kamu aja,
Za. Aku juga menginginkan dia.” Lirih Nadira pelan sebelum akhirnya dia
membenamkan wajahnya di atas meja.
Sudah beberapa
hari ini, Nadira terlihat tidak bersemangat sama sekali. Mungkin semua
gara-gara informasi yang di berikan Liza beberapa hari lalu.
“hei, ratu
manyun.” Kevin berdiri di hadapan Nadira.
“apa?” jawabnya
malas.
“kau sakit?”
Kevin menyentuh kening Nadira dengan telapak tangannya. “tapi, tubuhmu tidak
panas.” Lanjutnya lagi.
“aku sakit
hati!” ketus Nadira mencoba menjauh dari Kevin.
“mau kemana? Ini
kan jam olahraga!”
Nadira berhenti
dan berbalik arah menghadap Kevin. “aku
mau ke UKS”
Kevin berjalan
mendekati Nadira. “aku titip jam tanganku, ya? Soalnya aku mau main voly.”
Kevin memberikan jam tangannya kepada Nadira.
“ciiiee.. ada
yang lagi pacaran di siang bolong niih.” Goda Susan.
“waaahhh, jadi
kalian berdua udah resmi pacaran?” nimbrug Yana.
“apaan sih? Enggak
kok. Kami sama sekali enggak pacaran.”
“aku dapat fakta
baru. Ternyata Nadira diam-diam
menghanyutkan.” Tambah Fitri.
“kalian ini,
enggak…enggak..enggak..” sanggah Nadira.
“perhatiin deh,
wajah Nadira udah merah padam tuuh.” Cita menunjuk kearah wajah Nadira.
“aduh Nad, ngaku
ajan deh.”
“enggaakk!!!
Keviinn!!”
“ahahaha.
Titip,ya.” Kevin langsung berlari ketengah lapangan meninggalkan Nadira dengan
wajah yang seperti kepiting rebus.
Ketika sampai di
UKS, Nadira merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur yang ada di UKS.
“Nadira!!”
panggil Liza.
Nadira yang
mulai memejamkan matanya tak menghiraukan panggilan teman super bawelnya itu.
“Nadiraa!!” Liza
menggoyang-goyangkan tubuh Nadira.
“apasih?”
akhirnya dengan malas Nadira duduk bersila di atas ranjang.
“gosip yuuk!!”
ajak Liza sambil mengedip-kedipkan matanya.
“kamu samperin
aku kesini cuma buat ngegosip aja? Enggak aah. Lagian kenapa tuh sama mata
kamu? Kelilipan, ya??”
“aarrgghhhh!!
Nadira!!!” teriak Liza frustasi dan mendapat teguran dari guru penjaga UKS.
“mending kamu
keluar aja deh. Aku mau istirahat.” Nadira mengusir Liza secara lembut.
“Nadira, kamu
enggak kemana-mana, kan? Ibu mau keluar sebentar.”
“iya, bu.”
Setelah guru tersebut keluar, Nadira kembali merebahkan tubuhnya dan mencoba
memjamkan matanya. Namun, ia merasa seperti ada seseorang yang masuk. Nadira
membuka sedikit matanya dan mendapati sesosok pria yang membuatnya tak
bersemangat beberap hari ini. Siapa lagi kalau bukan Randy. Melihat Randy,
Nadira refleks membalikkan tubuhnya membelakangi Randy.
‘ya Tuhan!
Kenapa tuh anak malah kesini? Apa terjadi sesuatu ya sama dia? Lihat, enggak.
Lihat, enggak. Aah, aku bingung.’ Batin Nadira.
“Nadira..” lirih
Randy. Nadira berpura-pura tak mendengarnya. “kamu tidur, ya? Padahal aku ingin
mengatakan sesuatu padamu.” Randy sedikit kecewa, namun tiba-tiba…
“mau bilang
apa?” mendengar kalimat terakhir Randy, membuat Nadira kembali bersemangat dan
langsung bangun dari tidurnya.
Randy menatap
aneh kearah Nadira.
“katanya mau
bilang sesuatu? Mau bilang apa?” Nadira bertanya dengan memasang wajah
terimutnya. Jantungnya berdegup kencang, karena ini adalah pertama kalinya
Randy mengajaknya bicara.
“bukannya kamu
lagi tidur,ya?” tanya Randy bingung.
“eoh? Hehehehe.”
Nadira menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia jadi salah tingkah.
“kudengar, kau
dan Kevin sudah resmi berpacaran. Benarkah itu?”
“darimana kau
mendengarnya?”
“dari
anak-anak.”
“tidak. Itu
tidak benar. Meeka semua salah paham. Tolong percayalah padaku”
“bagaimana kalau
aku tidak percaya?”
“kau harus
percaya.” Nadira mencoba meyakinkan Randy.
Randy tersenyum.
“temui aku di gudang belakang sekolah sepulang sekolah nanti.” Dan setelah itu,
Randy meninggalkan Nadira dengan sebuah pertanyaan besar.
Sesuai dengan
apa yang di katakan Randy, Nadira menunggu Randy di gudang belakang sekolah.
“kau menunggu
lama?” Randy muncul di hadapan Nadira.
Nadira
menggeleng pelan. Mereka berdua sama-sama terdiam dalam waktu yang cukup lama,
hingga akhirnya Randy memulai pembicaraan.
“jadi benar, kau
dan Kevin tidak ada hubungan?”
“kami hanya
sebatas teman.”
“syukurlah,
kalau begitu.”
Nadira menoleh
kearah Randy. Randy balik menatap Nadira. “aku menyukaimu!” ucap Randy.
Nadira menautkan
alisnya. “kau bercanda?”
“apa aku
terlihat seperti sedang bercanda?”
“tapi, kau kan berpacaran
dengan Ayu?”
“memang. Tapi,
itu hanya sebagai balas dendam, karena dia sudah pernah menolakku di depan
orang banyak dan membuatku malu. Beberapa hari sesudah itu, aku tak sengaja
melihat bukumu dan membaca satu kalimat yang menarik perhatianku ‘aku tak
berharap dia menyukaiku, cukup dengan dia menganggapku sebagai temannya itu
sudah cukup bagiku’. Dan mulai saat itu aku mulai memperhatikanmu, dan itu
sangat menyenangkan sekali. Terlebih lagi setelah aku tau siapa yang kau maksud
itu.”
“kau jadi seorang
penguntit?” Randy hanya tersenyum. “lalu bagaimana dengan Ayu sekarang?”
“dia? Aku sudah
mengakhiri hubungan kami sehari yang lalu?”
“sesingkat
itukah?”
“aku tidak
menyukainya. Lagi pula aku hanya akan menyukai satu orang. Dia yang akan
menjadi kekasih hatiku dan teman hidupku, kelak. Besok aku akan Irlandia, orang
tuaku memindahkan aku kesana. Jaga dirimu baik-baik. Tunggu aku, dan kita akan
bertemu di tempat ini 5 tahun lagi. Ini sebagai pengikat antara kamu dan aku.
Kita berdua sekarang adalah teman.” Randy memberikan sebuah cincin kepada
Nadira, dan setelah itu ia keluar dari gudang.
5
tahun kemudian.
Nadira berjalan
masuk kesekolah yang menyimpan banyak kenangan indah tentang dirinya. Ia
berjalan kearah gudang dan masuk kedalamnya.
“aku tidak menyangka
tempat ini telah berubah sedemikian bagusnya.” Mata Nadira berbinar-binar
menyaksikan gudang yang dulunya penuh debu dan tak pernah terawat kini bahkan lebih bagus dari yang ia
bayangkan. “Randy pasti senang melihatnya.”
Tiba-tiba
sesuatu dari belakang menutup indra penglihatannya. Nadira meraba-raba tangan
yang menutup matanya.
“kau sudah
kembali?” tanpa harus membuka matanya, Nadira tau siapa itu.
“aku hanya ingin
menepati janji seorang teman.” Randy kini berdiri di hadapan Nadira. Ia
melepaskan cincin yang selama ini melingkar di jari manis Nadira. Ia berlutut
di depan Nadira. “aku memilihmu sebagai teman hidupku. So, would you marry me?”
Nadira hanya
tersenyum. “apa yang harus ku jawab?”
“ya atau tidak!”
“dari dulu
hatiku memang sudah memilihmu. Yes, I would!” jawab Nadira tegas.
Randy mencium
tangan lembut itu dan memasangkan cincin emas di jari manis yang sama, kemudian
Randy memeluk Nadira erat.
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar