Dia Yang Telah Kembali
Oleh: Heldiana (AceFanFan)
Matahari senja tidak
begitu menarik perhatianku sejak kehadirannya. Kami masih saling menatap satu
sama lain seolah menyampaikan suatu rasa yang tidak akan mampu terungkap dengan
kata-kata. Aku tersenyum begitu juga dengan dia.
“Lama tidak bertemu.”
Ucapnya memecahkan keheningan yang sempat terjadi diantara kami.
Aku tidak menjawabnya,
hanya tersenyum sebagai jawaban. “Bagaimana keadaanmu?” tanyanya kembali.
“Seperti yang kau
lihat, aku baik-baik saja. Kau sendiri?”
“Aku? Yeah, aku sedang
tidak baik-baik saja.” Aku menautkan kedua alisku dan setelahnya dia tertawa
terbahak-bahak. “Kau masih seperti yang dulu, Ren. Aku hanya bercanda.” Kembali
aku merasakan tangan itu mengusak rambutku. Hal yang sudah lama tidak pernah
kurasakan lagi semenjak ia memilih pergi meninggalkan aku.
“Adit! Kau ini selalu
saja membuat orang khawatir.” Ucapku sedikit kesal karena rambutku yang
berantakan olehnya.
“dan kau selalu saja
mengkhawatirkan orang lain.”
“Baiklah, aku tidak akan
mengkhawatirkanmu lagi.” Ucapku sedikit kesal. Kenapa aku kesal? Tentunya
karena dia selalu menyembunyikan sesuatu dariku, bahkan tentang sesuatu yang
membuat hatiku nyeri jika mengingatnya.
“Hei, jangan ngambek
dong. Aku tidak keberatan jika kau mengkhawatirkanku.” Dia kembali tersenyum.
Senyum yang dulu selalu diberikannya hanya untukku.
Aku berbalik
membelakanginya untuk menutupi pipiku yang terasa semakin panas. Mungkinkah dia
akan kembali lagi untukku? Aku merasakan jaket hangat menutupi bahuku, dan
kulirik ke samping Adit kembali menyunggingkan senyum itu.
“Hari sudah semakin
gelap. Ayo pulang, aku akan mengantarmu ke rumah.”
“Terima kasih.” Ucapku
menunduk dan berjalan mengekorinya.
Hening terasa begitu
aku memasuki mobilnya, bahkan ketika mobil mulai berjalan hanya deru mobil yang
mengisi di setiap keheningan yang tercipta.
“Adit...” Ucapku
memecahkan keheningan dan jari-jariku lebih menarik perhatianku daripada Adit
yang kurasa saat ini sedang menatapku. “Bagaimana kabar kekasihmu?” lanjutku.
Kulirik ia dengan ekor
mataku dan kudapati reaksi tubuhnya menegang sejenak kemudian ia tersenyum
kembali.
“Kurasa dia baik-baik
saja. Kami sudah berakhir.” Aku mencoba untuk menatapnya dan kurasakan ada yang
lain dari senyumannya.
“Kau baik-baik saja?
Maaf jika pertanyaanku mengganggumu.” Aku kembali menunduk.
“Tidak apa-apa Reny,
jangan khawatirkan aku.”
Suasana kembali hening
dan Adit memilih untuk menatap jalanan walaupun kutahu sebenarnya ia tidak
fokus dengan apa yang di tatapnya. Aku menghela napas pelan.
“Dit, bolehkah aku
menyembuhkan luka itu lagi?” Entah kenapa pertanyaan itu meluncur sendiri dari
bibirku dan aku menyesal telah bertanya hal itu.
Adit menghentikan laju
mobilnya, dia tidak mengatakan apapun dan kurasakan sepasang lengan kokoh
memelukku erat. Aku menahan napas sejenak, jantungku berdetak lebih cepat, dan
tanganku terangkat untuk membalas pelukannya.
“A-aku...aku minta
maaf. Maaf untuk rasa sakit itu, maaf karena aku lebih memilih dia, dan aku
juga tidak bisa membohongi perasaanku sendiri.” Aku tidak mengatakan apa-apa
selain mengusap punggungnya pelan. “D-dia pergi seperti aku pergi darimu. D-dia
meninggalkanku.”
Hatiku kembali
merasakan sakit, luka itu kembali menganga lebar, kenangan itu kembali
berputar-putar di kepalaku. Saat dimana Adit memutuskan untuk mengakhiri
hubungan kami dan mengatakan bahwa dia telah mencintai orang lain jauh sebelum
kami bertemu. Aku tidak kuat untuk menahan rasa sakit itu lagi, aku ingin dia
tau bahwa aku sangat tersiksa dengan rasa sakit itu. Tapi, aku tidak mungkin
mengatakannya disaat ia sedang terpuruk begini. Mungkinkah ini karma untuknya?
Aku menangis, menangis
bersamanya, menangisi rasa sakit di hati masing-masing, dan hujan mulai
berjatuhan membasahi bumi. Aku tidak peduli jika bajunya basah karena air
mataku, kali ini aku ingin egois. Aku ingin menumpahkan rasa sakitku dalam
pelukannya, pelukan yang dulu selalu menenangkanku.
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar