Rabu, 24 Juni 2015

Fiksi Mini: Dia Yang Telah Pergi

Dia Yang Telah Kembali
Oleh: Heldiana (AceFanFan)

Matahari senja tidak begitu menarik perhatianku sejak kehadirannya. Kami masih saling menatap satu sama lain seolah menyampaikan suatu rasa yang tidak akan mampu terungkap dengan kata-kata. Aku tersenyum begitu juga dengan dia.
“Lama tidak bertemu.” Ucapnya memecahkan keheningan yang sempat terjadi diantara kami.
Aku tidak menjawabnya, hanya tersenyum sebagai jawaban. “Bagaimana keadaanmu?” tanyanya kembali.
“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Kau sendiri?”
“Aku? Yeah, aku sedang tidak baik-baik saja.” Aku menautkan kedua alisku dan setelahnya dia tertawa terbahak-bahak. “Kau masih seperti yang dulu, Ren. Aku hanya bercanda.” Kembali aku merasakan tangan itu mengusak rambutku. Hal yang sudah lama tidak pernah kurasakan lagi semenjak ia memilih pergi meninggalkan aku.
“Adit! Kau ini selalu saja membuat orang khawatir.” Ucapku sedikit kesal karena rambutku yang berantakan olehnya.
“dan kau selalu saja mengkhawatirkan orang lain.”
“Baiklah, aku tidak akan mengkhawatirkanmu lagi.” Ucapku sedikit kesal. Kenapa aku kesal? Tentunya karena dia selalu menyembunyikan sesuatu dariku, bahkan tentang sesuatu yang membuat hatiku nyeri jika mengingatnya.
“Hei, jangan ngambek dong. Aku tidak keberatan jika kau mengkhawatirkanku.” Dia kembali tersenyum. Senyum yang dulu selalu diberikannya hanya untukku.
Aku berbalik membelakanginya untuk menutupi pipiku yang terasa semakin panas. Mungkinkah dia akan kembali lagi untukku? Aku merasakan jaket hangat menutupi bahuku, dan kulirik ke samping Adit kembali menyunggingkan senyum itu.
“Hari sudah semakin gelap. Ayo pulang, aku akan mengantarmu ke rumah.”
“Terima kasih.” Ucapku menunduk dan berjalan mengekorinya.
Hening terasa begitu aku memasuki mobilnya, bahkan ketika mobil mulai berjalan hanya deru mobil yang mengisi di setiap keheningan yang tercipta.
“Adit...” Ucapku memecahkan keheningan dan jari-jariku lebih menarik perhatianku daripada Adit yang kurasa saat ini sedang menatapku. “Bagaimana kabar kekasihmu?” lanjutku.
Kulirik ia dengan ekor mataku dan kudapati reaksi tubuhnya menegang sejenak kemudian ia tersenyum kembali.
“Kurasa dia baik-baik saja. Kami sudah berakhir.” Aku mencoba untuk menatapnya dan kurasakan ada yang lain dari senyumannya.
“Kau baik-baik saja? Maaf jika pertanyaanku mengganggumu.” Aku kembali menunduk.
“Tidak apa-apa Reny, jangan khawatirkan aku.”
Suasana kembali hening dan Adit memilih untuk menatap jalanan walaupun kutahu sebenarnya ia tidak fokus dengan apa yang di tatapnya. Aku menghela napas pelan.
“Dit, bolehkah aku menyembuhkan luka itu lagi?” Entah kenapa pertanyaan itu meluncur sendiri dari bibirku dan aku menyesal telah bertanya hal itu.
Adit menghentikan laju mobilnya, dia tidak mengatakan apapun dan kurasakan sepasang lengan kokoh memelukku erat. Aku menahan napas sejenak, jantungku berdetak lebih cepat, dan tanganku terangkat untuk membalas pelukannya.
“A-aku...aku minta maaf. Maaf untuk rasa sakit itu, maaf karena aku lebih memilih dia, dan aku juga tidak bisa membohongi perasaanku sendiri.” Aku tidak mengatakan apa-apa selain mengusap punggungnya pelan. “D-dia pergi seperti aku pergi darimu. D-dia meninggalkanku.”
Hatiku kembali merasakan sakit, luka itu kembali menganga lebar, kenangan itu kembali berputar-putar di kepalaku. Saat dimana Adit memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami dan mengatakan bahwa dia telah mencintai orang lain jauh sebelum kami bertemu. Aku tidak kuat untuk menahan rasa sakit itu lagi, aku ingin dia tau bahwa aku sangat tersiksa dengan rasa sakit itu. Tapi, aku tidak mungkin mengatakannya disaat ia sedang terpuruk begini. Mungkinkah ini karma untuknya?
Aku menangis, menangis bersamanya, menangisi rasa sakit di hati masing-masing, dan hujan mulai berjatuhan membasahi bumi. Aku tidak peduli jika bajunya basah karena air mataku, kali ini aku ingin egois. Aku ingin menumpahkan rasa sakitku dalam pelukannya, pelukan yang dulu selalu menenangkanku.


END


Tidak ada komentar:

Posting Komentar