Selasa, 30 Juni 2015

Cerpen: Just Friend


Just Friend
Oleh : Heldiana (AceFanFan)

Yuli memperhatikan Nissa  yang sejak tadi menatap lurus kedepan, lebih tepatnya menatap punggung Andi yang  duduk membelakangi mereka berdua.
“Nis, kamu liat apa sih? Dari tadi pandangan kamu lurus kedepan?” tanya Yuli menyikut lengan Nissa.
Nissa menoleh kearah Yuli. “gak ada kok, Yul.” Ucapnya menggeleng. “Yul, kamu ngerasa gak sih kalau Andi sering banget liatin kesini?  Aku sering mergoki dia, dan dia langsung ngalihin pemandangannya kalau udah kepergok.” Yuli mengerutkan alisnya. “Dia juga sering senyum kearah aku, jangan-jangan Andi suka lagi sama aku.” Lanjut Nissa.
Yuli hampir tersedak dengan air liurnya sendiri dan menatap horror kearah Nissa. “Maksud kamu apa Nis?”
“aah, lupain aja. Oya, tugas yang di kasih Bu Erna udah siap belum? Aku minta ya?” Nissa mengerjab-ngerjabkan matanya memohon.
Yuli memutar bola matanya malas dan melempar buku tugasnya yang baru ia keluarkan dari dalam tasnya di depan Nissa.
“baik banget.” Nissa langsung mengambil buku itu dan menyalinnya di bukunya.



Yuli duduk di halte tempat biasa dia menunggu bus sekolah sambil tangannya sibuk mengetik pesan-pesan singkat entah dengan siapa. Kadang Yuli tersenyum membaca balasan pesan-pesan itu kemudian ia mengetik pesan singkat lagi untuk membalas pesan dari seseorang. Bus sudah berhenti tepat di hadapan Yuli, ia bergegas masuk ke dalam bus sekolah dan di sambut oleh teriakan Nissa.
“YULI!!!” Nissa menarik Yuli duduk didekat sopir bus. Sang sopir Cuma tersenyum mendengar teriakan Yuli. Ini sudah biasa sang sopir karena memang setiap pagi Nissa akan berteriak-teriak tidak jelas di dalam bus, kadang juga dia sering di tegur oleh penghuni bus lainnya.
“Yuli, aku mau cerita sesuatu sama kamu.”
“Mau cerita apa?” Yuli yang tadinya sibuk dengan ponselnya mengalihkan pandangannya kearah Nissa.
“Semalam aku di tembak Andi.” Yuli membulatkan matanya terkejut, mulutnya menganga lebar.
“Kok bisa?” tanya Yuli yang justru mendapat kerutan di alis Nissa.
“Kamu kok nanyanya gitu? Seharusnya kamu tanya ‘kamu terima dia gak?’ bukannya ‘kok bisa?’” Nissa mengerucutkan bibirnya.
“Oke! Oke! Oke! Kamu terima dia gak?”
“Aku belum jawab.” Nissa menggelengkan kepalanya. “soalnya semalam aku gak punya pulsa.” Lanjut Nissa yang langsung ngebuat Yuli seakan-akan pengen ngelempar Nissa keluar bus.
Sopir bus yang dari tadi mendengar perbincangan mereka menoleh kearah mereka berdua. “seharusnya minta sama dia aja pulsanya.”
“Gak mungkin, Pak. Dia teman sekelas saya, mau di taruh dimana muka saya kalau minta pulsa sama dia. Entar di kiranya saya gak mampu buat isi pulsa sendiri.”
“Emang gak mampu, kan? Hahaha.” Goda Sang sopir. Nissa merengut kesal. “saran Bapak nih ya, mending gak usah di terima aja.”
“Kenapa gitu, Pak?”
“Dia itu kan teman sekelas kamu, gak enak nantinya. Pasti sering di ledekin sama teman-temannya kalau sampai ketauan. Apalagi kalau udah putus pasti rasanya canggung banget, apalagi kalau samapai musuhan. Kan gak enak kalau musuhan sama teman kelas sendiri.”
“Iya juga sih, Pak. Jadi saya harus gimana Pak?”
“Jadi  teman dekat aja. Pacar itu bisa putus tapi kalau teman itu gak ada yang namanya putus. Kalau emang udah cinta banget nikah aja.”
“Hush, Bapak! Kita ini masih mau sekolah yang tinggi Pak.” Ucap Yuli yang dari tadi diam mendengar ucapan sang sopir dan temannya Nissa.
“Hahahaha, bagus kalau kayak gitu. Pacaran jangan di jadikan prioritas utama.”
“Iya Pak!” ucap mereka berbarengan.



“Andi, aku mau ngomong sama kamu?” Yuli berdiri di depan meja Andi.
“Mau ngomong apa sayang?”
“Iisssh, gak usah panggil-panggil ‘sayang’ di sekolah.”
“Hehehehe. Emang mau ngomong apa sih?”
“Aku mau kita putus!” ucap Yuli menundukkan kepalanya sambil memainkan jari-jari tangannya.
“P-pu-putus? Tapi kenapa?”
“Semalam kamu nembak Nissa, kan? Mau kamu apa sih? Nissa itu teman dekat aku.” Yuli mengangkat wajahnya menatap Andi.
“Nembak? Pakek pistol maksudnya? Hahahaha.” Andi justru tertawa membuat Yuli sedikit kesal dan menginjak kaki Andi. “Aaawww!!!” rintih Andi.
“Aku gak lagi becanda Andi!!” geram Yuli.
“Oke! Oke! Oke! Semalam aku gak nembak Nissa. Beneran deh, di cium orang gila pun aku rela.” Andi mengacungkan jari tengan dan telunjuknya membentuk huruf V.
“Apaan sih kamu?! Entar di cium beneran looh.”
“Kan kalau aku bohong di cium.” Andi mencolek dagu Yuli membuat Yuli melotot kearahnya. “Kalau kamu minta putus cuma gra-gara itu aku gak mau. Lagian semalam aku cuma ngirim kata-kata gombalan. Yaaah, maksud aku cuma mau minta pendapat dia cocok gak kalau gombalan itu ku kirim untuk kamu. Tapi dianya malah gak ngebalas pesan aku. Masa Cuma gara-gara itu aku di bilang nembak dia sih? Teman kamu kegeeran banget!”
Yuli mencubit lengan Andi. “Kamu juga salah, tiap hari kamu sering ngelirik dia, kan?”
“aku gak ngelirik dia, aku ngelirik kamu dan selalu kepergok dia. Itu yang benar!”
“serah deeh, pokoknya kau mau putus!”
“tapi aku gak mau!” Andi melipat kedua tangannya di depan dadanya.
“tapi aku belum siap nikah, Andi! Aku ingin sekolah yang tinggi, ngebanggain orang tua, dan masih banyak yang ingin aku lakuin.” Yuli berkacak pinggang.
“yang ngajak kamu nikah siapa? Kita kan cuma pacaran?!”
“jadi kamu gak cinta sama aku?”
“eh? Bukan gitu!”
“sopir bus bilang, pacaran itu gak ada manfaatnya. Kalau emang udah cinta langsung nikah aja. Dan kamu gak cinta sama aku.” Yuli merengut membuat Andi kembali tertawa.
“ahahahahaha, kamu kok polos banget sih? Emang kamu mau nikah sekarang?” Yuli menggeleng. “naah kan, kamu aja belum siap. Jadi alasan kamu minta putus Cuma itu?” Yuli mengangguk. “bukan karena gara-gara aku rumor  nembak Nissa?” yuli menggeleng. “oke, aku mau kita putus, tapi dengan syarat!”
“apa syaratnya?”
“kita masih tetap berteman, kan?”
“itu pasti!”
“oke!” Andi merangkul  Yuli. “teman boleh melakukan apapun pada temannya, kan?”
“gak semuanya Andi.”
“temenin aku makan! Aku lapar. Sebagai teman yang baik tidak boleh menolak.”
Yuli menghela nafas pelan. “oke! Kamu yang traktir. Sebagai teman yang baik tidak boleh menolak.” Yuli mengulang kata-kata Andi dan tersenyum puas melihat Andi sedikit kesal. Hei, ini masih terlalu pagi untuk mentraktir seorang teman. Tapi tidak apa-apa juga selama dia tidak rakus di kantin nanti.
“kau tidak rakus, kan?”
“tentu tidak! Tapi aku sedang lapar, jadi aku akan menghabiskan semua makanan yang ada di kantin.”
“kau ingin membuatku brangkrut?!”
“hahahahaha, teman tidak setega itu.”
“haaah, syukurlah. Setidaknya jika kau melakukan itu, kau harus bayar sendir.”
“kau bilang ingin mentraktirku?!”
“aku tidak ingin mentraktirmu, tapi kau yang minta di traktir.”
“terserah kau sajalah.”

“hahahahaha.” Mereka terus bercanda di sepanjang jalan menuju kantin. Ya, begitulah teman. Tidak ada rasa sungkan untuk melakukan hal apapun bersama.

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar