Rabu, 24 Juni 2015

Cerpen: Vengeance

Vengeance
Oleh: Heldiana (AceFanFan)

Hujan turun semakin lebat, tidak peduli akan manusia di bawah sana yang berlari kesana-sini untuk mencari perlindungan. Tidak begitu berbeda di tempat pemakaman umum, sekelompok manusia yang mengelilingi sebuah makam perlahan mulai berkurang.
“Paman, kenapa kau pergi, hiks? Hanya kau satu-satunya keluargaku. Hiks, tidakkah kau kasian melihatku hidup sebatang kara?” seorang gadis masih setia menangisi orang yang ia sebut ‘Paman’nya itu.
“Nay, sudah. Biarkan dia beristirahat dengan tenang.” Laki-laki yang berada di samping gadis itu mengusap lembut punggungnya.
“Kau tidak mengerti Roy, kau tidak pernah merasakan ditinggal oleh keluargamu.” Nayla –gadis tersebut- mengusap lembut batu nisan sang paman. “Semenjak kecil, hanya paman yang ada dihidupku setelah kedua orangtuaku meninggal. Dialah satu-satunya keluarga yang kupunya. Aku iri dengan yang lain, saat aku masih berumur delapan tahun, aku melihat teman-temanku dijemput oleh orangtuanya, sedangkan aku? Aku menunggu paman sampai sore di sekolah. Paman selalu bilang padaku, walaupun aku tidak punya orangtua lagi, aku akan tumbuh sama seperti anak-anak yang tidak pernah kekurangan kasih sayang kedua orangtuanya. Karena pamanku yang akan memberikannya untukku.” Nayla tersenyum mengingat masa-masa itu. Air mata masih setia beranak sungai di pipinya.
Roy menghela napas pelan. “Baiklah, aku akan membiarkanmu sendiri disini. Aku menunggumu di luar.” Nayla tidak menoleh, ia masih terus menatapi nisan pamannya membuat Roy sedikit bergetar. Ternyata kekasihnya sungguh sangat rapuh.
Sepeninggal Roy beberapa menit yang lalu, Nayla bangkit dari jongkoknya. Matanya masih terpaku dengan nisan bernama Johan Pangestu tersebut. Pikirannya berputar ke masa lalu, seakan seperti rol film yang terus berputar mengkisahkan sebuah cerita. Bayangan mengerikan itu seakan terlihat jelas olehnya, bayangan dimana kedua orangtuanya dibunuh di depan matanya.
Tubuh Nayla bergetar dan ia mengeratkan pegangannya pada payung hitamnya. Hari yang seharusnya menjadi hari yang indah karena pada hari itu ia genap berumur delapan tahun menjadi hari yang kelam dan penuh darah.
“Tidak perlu menangis, kalian akan mati di tanganku.” Suara itu terngiang jelas di telinga Nayla.
Nayla kecil menutup mulutnya dengan kedua tangannya, air matanya terus mengalir. Tubuhnya bergetar di tempat persembunyiannya. Ia ingin keluar dan memeluk kedua orang tuanya atau setidaknya ia akan berteriak ‘Tolong, jangan bunuh kedua orangtuaku,’ tapi ia tidak bisa melakukannya. Ia telah berjanji pada ayahnya tidak akan keluar sebelum ayahnya yang menyuruhnya keluar.
‘Dooorr!!!!’
Nayla hampir memecahkan tangisannya ketika melihat Ayahnya melalui celah-celah lemari terkapar di lantai dengan darah yang mulai mengenang di sekitarnya.
“Suamiku!!” Teriakan memilukan keluar dari bibir Ibu Nayla, ia memeluk erat tubuh suaminya yang bersimbah darah tanpa peduli darah itu kini menempel di tubuhnya. “Bajingan kau! Teganya kau membunuh suamiku!”
“Kau tidak perlu khawatir karena sebentar lagi kau juga akan menyusulnya.” Ucap laki-laki yang tidak jauh berdiri dari orangtuanya dengan tawa yang mengerikan. Kemudian suara tembakan kembali terdengar memekakkan telinga.
Semenjak saat itu Nayla tidak pernah melihat kedua orangtuanya lagi, kado terburuk dihari ulangtahunnya.
Nayla mengepalkan tangannya yang menggantung, ia gigit bibirnya menahan rasa sakit itu. Tanggal yang sama dengan tahun yang berbeda ia kembali kehilangan satu-satunya keluarganya, sang Paman. Pamannya juga mati tepat di hadapannya sama seperti kedua orangtuanya.
“A-apa yang kau lakukan?” Wajah ketakutan sang Paman terekam jelas di ingatannya.
“Membalas semua dosa-dosamu.”
“A-apa maksudmu?” ucap Paman Nayla.
“Jangan berpura-pura sok suci, Johan.” Gadis itu menyeringai lebar.
“Kau... akkhhh!!” Satu sayatan muncul di tubuh Johan. “K-kau monster!”
“Lalu apa bedanya denganmu?” Gadis itu kembali menyayat bagian tubuh lain Johan. “Kau bahkan lebih kejam dariku.” Entah darimana munculnya, kini botol cuka ada di tangan gadis tersebut. “Akan lebih menyenangkan jika bermain-main dengan tubuhmu terlebih dahulu.” Ia menyiram air cuka tersebut ke luka-luka sayatan yang baru di buatnya.
“Aakkhh!! Brengsek! Lepaskan aku!” Teriak Johan kesakitan.
“Melepaskanmu dan lalu membunuhku? Kau kira aku bodoh?” Gadis itu tersenyum licik, ia kembali membuat luka baru di tubuh Johan.
“Apa yang kau inginkan bocah sialan?!” Teriaknya frustasi.
“Tidak banyak.” Gadis itu memainkan belatinya tepat di dada kiri Johan. Tempat dimana jantungnya berdetak cepat. “Ugh, sepertinya kau sangat ketakutan. Aku jadi semakin ingin menyiksamu lebih lagi.” Ia tertawa pelan.
“J-jangan, kumohon.” Johan tidak lagi menyembunyikan rasa takutnya. Ia menatap penuh harap pada gadis di hadapannya.
“Uuuh, kau kira aku akan luluh dengan tampangmu ini hm?” Gadis itu mengoncang-goncangkan wajah Johan pelan.
“J-jangan bunuh aku, kumohon.” Johan mulai menangis pelan.
“Tidak perlu menangis, kau akan mati di tanganku.” Johan tersentak mendengar kalimat itu. “Kenapa? Kau terkejut?”
“K-kau...” matanya membulat lebar kala sebuah belati mulai menusuk kulit dadanya melewati tulang rusuknya dan menabrakkan ujung runcing itu tepat di jantungnya.
Gadis itu mulai memutar belatinya sehingga membentuk lubang di dada Johan dan darah mengucur deras dari lubang itu. Mata Johan mulai terpejam perlahan, kulitnya pucat karena kehabisan darah, dan dia menghembuskan napas terakhirnya.
Hujan masih turun dengan deras dan Nayla masih berdiri di tempatnya, membayangkan apa yang telah terjadi dalam hidupnya. Ayah, Ibu, dan Pamannya mati dalam sebuah pembunuhan. Ia menarik sudut bibirnya membentuk sebuah seringaian.
“Aku membalaskan dendam kalian, Ayah, Ibu.” Kemudian ia berjalan meninggalkan pemakaman dan menghampiri kekasihnya yang telah menunggu di luar gerbang masuk.
“Ya. Aku adalah saksi pembunuhanmu, Paman.” Gadis itu tersenyum miring. “Senang akhirnya kau mengetahuinya.” Nayla menarik belati yang di penuhi cairan kental berwarna merah pekat tersebut. “Kuharap kau tidak menyesal telah membesarkan seorang psikopat.” Nayla membersihkan semua hasil perbuatannya. Kemudian ia membakar gudang yang tidak terpakai itu lagi, membuat semuanya seolah-olah seperti kecelakaan.
“Maaf membuatmu menunggu lama.” Nayla tersenyum ke arah Roy. “...dan terima kasih untuk bantuanmu selama ini.”
“Dia pantas mendapatkannya sayang.” Roy tersenyum begitupun Nayla, dan mereka pergi meninggalkan tempat pemakaman tersebut.

END


Tidak ada komentar:

Posting Komentar