Vengeance
Oleh: Heldiana
(AceFanFan)
Hujan turun semakin
lebat, tidak peduli akan manusia di bawah sana yang berlari kesana-sini untuk
mencari perlindungan. Tidak begitu berbeda di tempat pemakaman umum, sekelompok
manusia yang mengelilingi sebuah makam perlahan mulai berkurang.
“Paman, kenapa kau
pergi, hiks? Hanya kau satu-satunya keluargaku. Hiks, tidakkah kau kasian
melihatku hidup sebatang kara?” seorang gadis masih setia menangisi orang yang
ia sebut ‘Paman’nya itu.
“Nay, sudah. Biarkan
dia beristirahat dengan tenang.” Laki-laki yang berada di samping gadis itu
mengusap lembut punggungnya.
“Kau tidak mengerti
Roy, kau tidak pernah merasakan ditinggal oleh keluargamu.” Nayla –gadis
tersebut- mengusap lembut batu nisan sang paman. “Semenjak kecil, hanya paman
yang ada dihidupku setelah kedua orangtuaku meninggal. Dialah satu-satunya
keluarga yang kupunya. Aku iri dengan yang lain, saat aku masih berumur delapan
tahun, aku melihat teman-temanku dijemput oleh orangtuanya, sedangkan aku? Aku
menunggu paman sampai sore di sekolah. Paman selalu bilang padaku, walaupun aku
tidak punya orangtua lagi, aku akan tumbuh sama seperti anak-anak yang tidak
pernah kekurangan kasih sayang kedua orangtuanya. Karena pamanku yang akan
memberikannya untukku.” Nayla tersenyum mengingat masa-masa itu. Air mata masih
setia beranak sungai di pipinya.
Roy menghela napas
pelan. “Baiklah, aku akan membiarkanmu sendiri disini. Aku menunggumu di luar.”
Nayla tidak menoleh, ia masih terus menatapi nisan pamannya membuat Roy sedikit
bergetar. Ternyata kekasihnya sungguh sangat rapuh.
Sepeninggal Roy
beberapa menit yang lalu, Nayla bangkit dari jongkoknya. Matanya masih terpaku
dengan nisan bernama Johan Pangestu tersebut. Pikirannya berputar ke masa lalu,
seakan seperti rol film yang terus berputar mengkisahkan sebuah cerita.
Bayangan mengerikan itu seakan terlihat jelas olehnya, bayangan dimana kedua
orangtuanya dibunuh di depan matanya.
Tubuh Nayla bergetar
dan ia mengeratkan pegangannya pada payung hitamnya. Hari yang seharusnya
menjadi hari yang indah karena pada hari itu ia genap berumur delapan tahun
menjadi hari yang kelam dan penuh darah.
“Tidak perlu menangis,
kalian akan mati di tanganku.” Suara itu terngiang jelas di telinga Nayla.
Nayla kecil menutup
mulutnya dengan kedua tangannya, air matanya terus mengalir. Tubuhnya bergetar
di tempat persembunyiannya. Ia ingin keluar dan memeluk kedua orang tuanya atau
setidaknya ia akan berteriak ‘Tolong, jangan bunuh kedua orangtuaku,’ tapi ia
tidak bisa melakukannya. Ia telah berjanji pada ayahnya tidak akan keluar
sebelum ayahnya yang menyuruhnya keluar.
‘Dooorr!!!!’
Nayla hampir memecahkan
tangisannya ketika melihat Ayahnya melalui celah-celah lemari terkapar di
lantai dengan darah yang mulai mengenang di sekitarnya.
“Suamiku!!” Teriakan
memilukan keluar dari bibir Ibu Nayla, ia memeluk erat tubuh suaminya yang
bersimbah darah tanpa peduli darah itu kini menempel di tubuhnya. “Bajingan
kau! Teganya kau membunuh suamiku!”
“Kau tidak perlu
khawatir karena sebentar lagi kau juga akan menyusulnya.” Ucap laki-laki yang
tidak jauh berdiri dari orangtuanya dengan tawa yang mengerikan. Kemudian suara
tembakan kembali terdengar memekakkan telinga.
Semenjak saat itu Nayla
tidak pernah melihat kedua orangtuanya lagi, kado terburuk dihari
ulangtahunnya.
Nayla mengepalkan
tangannya yang menggantung, ia gigit bibirnya menahan rasa sakit itu. Tanggal yang
sama dengan tahun yang berbeda ia kembali kehilangan satu-satunya keluarganya,
sang Paman. Pamannya juga mati tepat di hadapannya sama seperti kedua
orangtuanya.
“A-apa yang kau
lakukan?” Wajah ketakutan sang Paman terekam jelas di ingatannya.
“Membalas semua
dosa-dosamu.”
“A-apa maksudmu?” ucap
Paman Nayla.
“Jangan berpura-pura
sok suci, Johan.” Gadis itu menyeringai lebar.
“Kau... akkhhh!!” Satu
sayatan muncul di tubuh Johan. “K-kau monster!”
“Lalu apa bedanya
denganmu?” Gadis itu kembali menyayat bagian tubuh lain Johan. “Kau bahkan
lebih kejam dariku.” Entah darimana munculnya, kini botol cuka ada di tangan
gadis tersebut. “Akan lebih menyenangkan jika bermain-main dengan tubuhmu
terlebih dahulu.” Ia menyiram air cuka tersebut ke luka-luka sayatan yang baru
di buatnya.
“Aakkhh!! Brengsek!
Lepaskan aku!” Teriak Johan kesakitan.
“Melepaskanmu dan lalu
membunuhku? Kau kira aku bodoh?” Gadis itu tersenyum licik, ia kembali membuat
luka baru di tubuh Johan.
“Apa yang kau inginkan
bocah sialan?!” Teriaknya frustasi.
“Tidak banyak.” Gadis
itu memainkan belatinya tepat di dada kiri Johan. Tempat dimana jantungnya
berdetak cepat. “Ugh, sepertinya kau sangat ketakutan. Aku jadi semakin ingin
menyiksamu lebih lagi.” Ia tertawa pelan.
“J-jangan, kumohon.”
Johan tidak lagi menyembunyikan rasa takutnya. Ia menatap penuh harap pada
gadis di hadapannya.
“Uuuh, kau kira aku
akan luluh dengan tampangmu ini hm?” Gadis itu mengoncang-goncangkan wajah
Johan pelan.
“J-jangan bunuh aku,
kumohon.” Johan mulai menangis pelan.
“Tidak perlu menangis,
kau akan mati di tanganku.” Johan tersentak mendengar kalimat itu. “Kenapa? Kau
terkejut?”
“K-kau...” matanya
membulat lebar kala sebuah belati mulai menusuk kulit dadanya melewati tulang
rusuknya dan menabrakkan ujung runcing itu tepat di jantungnya.
Gadis itu mulai memutar
belatinya sehingga membentuk lubang di dada Johan dan darah mengucur deras dari
lubang itu. Mata Johan mulai terpejam perlahan, kulitnya pucat karena kehabisan
darah, dan dia menghembuskan napas terakhirnya.
Hujan masih turun
dengan deras dan Nayla masih berdiri di tempatnya, membayangkan apa yang telah
terjadi dalam hidupnya. Ayah, Ibu, dan Pamannya mati dalam sebuah pembunuhan.
Ia menarik sudut bibirnya membentuk sebuah seringaian.
“Aku membalaskan dendam
kalian, Ayah, Ibu.” Kemudian ia berjalan meninggalkan pemakaman dan menghampiri
kekasihnya yang telah menunggu di luar gerbang masuk.
“Ya. Aku adalah saksi
pembunuhanmu, Paman.” Gadis itu tersenyum miring. “Senang akhirnya kau
mengetahuinya.” Nayla menarik belati yang di penuhi cairan kental berwarna
merah pekat tersebut. “Kuharap kau tidak menyesal telah membesarkan seorang
psikopat.” Nayla membersihkan semua hasil perbuatannya. Kemudian ia membakar
gudang yang tidak terpakai itu lagi, membuat semuanya seolah-olah seperti
kecelakaan.
“Maaf membuatmu
menunggu lama.” Nayla tersenyum ke arah Roy. “...dan terima kasih untuk
bantuanmu selama ini.”
“Dia pantas
mendapatkannya sayang.” Roy tersenyum begitupun Nayla, dan mereka pergi
meninggalkan tempat pemakaman tersebut.
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar