Kamis, 21 April 2016

Fanfiction : Black Rain

Black Rain
Karya : Heldiana (AceFanFan)



Aku bersyukur pada Tuhan
Yang telah memberiku kehidupan
Memberikanku tubuh yang sempurna
Dengan mata yang mampu melihat betapa indahnya ciptaan-Nya
Hidung untuk menghirup oksigen bumi
Tangan untuk menggenggam dan merangkul orang-orang di sekelilingku
Kaki yang selalu menuntunku kearah masa depan yang lebih cerah
Serta jantung yang berdetak seiring berjalannya waktu
Aku tau detakan jantung ini tak lagi sempurna seperti jantung lainnya
Tapi aku bersyukur setidaknya Tuhan masih menyayangiku
Sehingga kini Ia mengujiku

“Wufan ge…” Tao menepuk pelan pundak Yifan. Sebenarnya ia tidak ingin mengusik namja tiang listrik itu, namun suara Jongdae yang terus berkicau di telinganya membuatnya kini berada di kamar Yifan.
Wufan atau lengkapnya Wu Yifan membalikkan posisi duduknya menghadap Tao. Sedikit menaikkan alisnya ketika mendapati Tao yang sedang menatap bingung kearahnya.
“Kau sakit ge? Wajahmu pucat sekali.” Tao menatapnya khawatir.
Yifan tersenyum dan menggeleng pelan. “Tidak, aku hanya lapar saja.” Yifan bangkit dari posisinya mendekati dan merangkul pundak Tao. “Siapa yang memasak hari ini?”
“Kau masih bertanya? Padahalkan hari ini tugasmu menyiapkan makan siang untuk kita.” Tao  sedikit kesal dengan kelakukan Yifan belakangan ini, laki-laki itu terlihat sedikit aneh di mata Tao.
“Hehehehe, maafkan aku.” Yifan menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil memamerkan sederetan gigi putihnya.
“Apa yang terjadi denganmu, ge? Akhir-akhir ini kau sering melamun, mengurung diri di kamar, bahkan kau sering tidak fokus dengan apa yang kau lakukan. Apa ada yang mengganggu pikiranmu?”
“Menganggu pikiranku?” Yifan berpura-pura berpikir dan melirik Tao sekilas. “Tidak ada yang menggangu pikiranku, Tao. Mungkin hanya perasaanmu.” Ucapnya tersenyum manis.
“Benarkah? Lalu kenapa kau membawaku ke ruang tamu? Aku lapar, ge. Kau ingin aku memakan sofa itu? Aku tidak seganas itu.” Tao merengek melirik kearah tangan Yifan yang merangkul pundaknya kemudian beralih menunjuk sofa yang tidak berdosa itu.
Yifan kembali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Eemm, sepertinya aku terlalu lapar hingga aku tidak bisa berkonstrasi dengan baik.”
“Tsk, aku akan menuntunmu ke ruang makan. Aku tidak ingin nantinya kita tersesat di kamar mandi dan aku yakin Jongdae saat ini pasti sedang berdemo bersama bebek-bebek karetnya. Ia bisa jadi sangat menyeramkan jika sedang lapar.”
“Hahaha kau benar. Padahal kau yang paling rakus tapi justru dia yang tidak bisa menahan laparnya.” Mereka berdua terkikik pelan mengingat kelakuan Jongdae.
Tao menatap Yifan yang sedang terkekeh ‘Kau bisa membohongi orang lain, tapi kau tidak bisa membohongi dirimu sendiri, ge.’ Tao tersenyum miris.

Hujan adalah lambang kesedihan, bukan?
Tapi aku sangat menyukai hujan
Setidaknya aku bisa menangis di bawah guyuran air hujan
Tanpa seorang pun yang tau akan kesedihanku
Aku bersyukur Tuhan menciptakab langit dan bumi
Aku bisa mencurahkan aegalanya disini
Bahkan ketika aku ingin menangis
Entah mengapa langit juga seakan iktu menangis
Membawa turun semua kesedihanku dan membasahi bumi

Hari ini Yifan kembali membolos dari kelasnya. Ia duduk sambil memejamkan matanya di sebuah ayunan yang ada di taman bermain. Mengayun pelan ayunan tersebut dengan kaki panjangnya.
‘DDrrtt…Ddrrtt…Ddrrtt…’
Yifan tersadar dari lamunannya ketika ponselnya bergetar menandakan ada pesan masuk. Yifan merogoh kantong celananya dan menyentuh layar ponselnya.

From: XiaoLuhanie
‘Hei tiang! Kau dimana? kenapa kau tidak masuk tadi? Kau tau, gara-gara kau, aku dan Minseok mendapat nilai C dari si botak gendut itu.’

Yifan tersenyum membaca pesan dari Luhan, tangannya kemudian bergerak menekan tombol ‘call’ pada nomor ponsel Luhan.
“Yaakk kau dimana sekarang, bodoh?” Yifan menjauhkan ponselnya dari telinganya untuk menghindari teriakan Luhan yang berlebihan.
“Jangan berteriak berlebihan Luhan. Kau hampir membuat telingaku tuli. Seharusnya kau menjawab telponku dengan ramah dan lembut bukannya berteriak seperti itu.”
“Kau membuatku kesal hari ini, Wufan. Aku menjadi bulan-bulanan Minseok. Sial!” upat Luhan dengan nada kesal.
Yifan terkekeh, “Aku senang kau memarahiku. Sudah lama sekali kau tidak marah-marah. Aku merindukannya, Luhan,” Yifan mengeluarkan cengirannya seakan-akan Luhan melihat wajah idiotnya saat ini.
“Aku tidak habis pikir mengapa dulu aku masuk ke universitas dan mengambil jurusan yang sama denganmu. Bodohnya lagi aku juga tinggal di asrama yang sama denganmu.”
“Bukannya dulu kau sendiri yang mengatakan ‘Kemanapun Wufan pergi aku akan ikut,’?” Yifan meniru suara Luhan kecil yang terdengar begitu menyedihkan di telinga Luhan. Suara Yifan begitu mengerikan.
“Oke! Aku memang pernah mengatakannya,” aku Luhan, “Sekarang pulanglah. Sepertinya akan turun hujan deras sebentar lagi.”
Yifan menatap langit yang mulai diselimuti awan hitam. Setetes air hujan turun mendarat di atas telapak tangan kanannya yang tengah menengadah. “Aku akan pulang nanti,” Yifan langsung memutuskan sambungannya.
Seakan mengerti dengan perasaan Yifan, langit mulai menjatuhkan bulir-bulir air hujan. Sebagian mengenai wajah Yifan yang tengah menengadah. Yifan tidak tahu mana air matanya dan mana air hujan, keduanya air yang berbeda rasa itu telah berbaur jadi satu.
“Kuharap kau tidak mengikutiku lagi ketika aku pergi dari sisi kalian, Luhan,” Yifan memejamkan matanya merasakan hujan membasahi wajahnya.

Aku tidak tahu sampai kapan aku akan bertahan
Aku tidak tahu sampai kapan rasa sakit ini akan berhenti
Aku juga tidak tahu sampai kapan jantung ini akan berhenti berdetak
Yang aku tahu saat ini
Kalian ada bersamaku
Sedikit mengukir senyum di bibirku
Yang sangat sulit kulakukan sekarang
Karena rasa sakit ini lebih dominan kurasakan

“Hujannya semakin deras,” Luhan berjalan mondar-mandir sambil sesekali menatap keluar jendela.
Sudah dua jam semenjak hujan turun dan Yifan belum kembali juga setelah ia mengakhiri perbincangannya melalui ponsel. Luhan khawatir? Tentu, ia sangat mencemaskan keadaan sepupunya yang terpaut umur enam bulan tujuh belas hari. Yifan itu sangat ceroboh menurut Luhan, itu sebabnya kemanapun Yifan pergi dengan senantiasa Luhan akan membuntutinya. Ia tidak ingin Yifan menimbulkan masalah. Tapi akhir-akhir ini Luhan tidak lagi mengekori Yifan seperti saat mereka masih kecil, ia tahu sepupunya butuh privasi.
“Apa yang kau lakukan, Hyung? Kau terus mondar-mandir sejak tadi seperti strika,” ucap Jongdae duduk di sofa dekat Luhan.
“Apa Wufan belum kembali?”
“Yifan hyung? Dia ada di kamarnya. Kau terlalu mengkhawatirkannya hingga tidak menyadari kehadirannya. Dia tadi pulang basah kuyub dan tubuhnya menggigil. Sekarang Tao dan Yixing hyung sedang mengurusnya.”
“Dimana Minseok?”
“Dia sedang membuatkan bubur untuk Yifan hyung. Kurasa dia demam.”
Luhan langsung berjalan ke kamar Yifan setelah mendengar penjelasan Jongdae. Dengan perlahan dibukanya pintu kamar Yifan menampakkan tiga orang anak manusia dengan postur tubuh yang berbeda. Luhan melangkah masuk dan berdiri menatap Yifan.
“Akhir-akhir ini kenapa kau sering sekali bermain hujan? Lihatlah sekarang akibatnya,” kesal Luhan.
Yifan hanya menanggapinya dengan senyuman, “Aku jatuh cinta, Lu,” ucapnya.
“Bodoh! Apa kau sedang patah hati? Gadis mana yang telah membuatmu patah hati? Aku bisa mencarikanmu gadis yang lebih baik lagi dari dia. Ingatlah pepatah lama ‘mati satu tumbuh seribu’.”
“Aku tidak sedang jatuh cinta pada wanita manapun, Lu. Aku jatuh cinta pada hujan. Mereka sangat indah.”
“Kau sakit Wufan,” cibir Luhan.
‘Ya, aku memang sakit,’ batin Yifan meremas dada sebelah kirinya tanpa sepengetahuan teman-temannya.
“Sudahlah. Kalian ini senang sekali berdebat. Masalah kecilpun kalian perdebatkan,” ucap Yixing.
“Bahkan kalian lupa bahwa kami masih disini sedari tadi,” timpal Tao kesal.
“Hehehe, Maaf Tao,” Yifan mengacak pelan rambut Tao. “Aku ingin istirahat. Hehehe, tolong ya.”
Luhan, Yixing, dan Tao memutar bola mata secara bersamaan. Jika Yifan mengatakan itu, maka mereka harus keluar dari kamar Yifan. Lebih tepatnya mereka diusir secara halus.
Ketika teman-temannya keluar dan meninggalkan dirinya sendiri, Yifan meringkuk di atas tempat tidurnya. Diremasnya dada sebelah kiri, ia menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit. Yifan ingin sekali berteriak, tapi itu tidak mungkin karena ia takut teman-temannya akan khawatir dengan keadaannya.
Gege, apa kau merasa ada yang aneh dengan Yifan-ge?” Tao bertanya dengan mata yang masih fokus ke lantai.
Luhan menoleh kearahnya, sedikit mengerutkan alis bingung. “Apa yang kau bicarakan?”
“Bukankah kau sepupunya? Apa kau tidak merasa dia sedikit aneh akhir-akhir ini? Eemm, dia seperti menyembunyikan sesuatu dari kita. Apa kau memperhatikan wajahnya tadi? Dia terlihat seperti sedang menahan sakit walaupun tadi dia sempat cengengesan.”
“Entahlah. Dia memang bukan Wufan yang dulu. Bahkan tadi dia senang mendengarku memarahinya. Biasanya dia pasti akan berteriak ketika aku aku melakukan itu,” Luhan menatap langit-langit asrama mereka.
“Waktu akan menjawab segalanya.” Yixing menepuk pelan punggung Luhan.


Mereka mengatakan
Akulah yang paling dekat denganmu
Bodohnya aku yang terlalu mendengarkan mereka
Nyatanya aku idak mengetahui apa yang menimpamu
Bahkan ketika kau terbaring lemah di tempatmu
Aku hanya bisa menangisi kebodohanku

‘Bruuk’ Minseok yang melewati kamar Yifan merapatkan pendengarannya di dahan pintu kamar Yifan ketika mendengar suara kegaduhan. Alisnya bertaut saat ia tidak mendengar suara apapun setelahnya. Karena penasaran, dibukanya pintu kamar Yifan tidak peduli jika nantinya sang pemilik akan berteriak heboh.
“Astaga! Yifan!” Pekik Minseok mendapati Yifan yang terbaring di dekat meja belajarnya. Minseok berteriak panik memanggil teman-temannya dengan masih memangku kepala Yifan.
“Ada apa hyung? Kenapa ber- Yifan hyung!” Jongdae tidak kalah panik, ia buru-buru menghampiri Minseok. “Apa yang terjadi dengan Yifan hyung?” tanyanya.
“Tidak tahu. Cepat panggilkan ambulance. Beritahu yang lain juga,” ucap Minseok kalang kabut mencoba menyadarkan Yifan.
“Baik hyung,” Jongdae berlari keluar kamar Yifan untuk mencari bantuan.
“Wufan sadarlah!” Luhan terus berlari mengikuti kereta dorong yang membawa Yifan. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Yifan. Sedangkan Minseok, Yixing, Jongdae dan Tao mengikutinya dari belakang.
“Maaf Tuan, Anda harus menunggu di luar,” ucap seorang suster menahan Luhan untuk masuk ke ruang UGD.
“Saya kerabatnya suster. Izinkan saya masuk.”
“maaf, tidak bisa. Ini sudah ketentuannya.” Suster itu langsung menutup pintu ruang UGD.
Luhan ingin mendobrak pintu penghalang antara dirinya dan Yifan, namun buru-buru ditahan oleh teman-temannya.
“Jangan keras kepala, Luhan,” ucap Minseok memegang erat pundak Luhan.
“Aku harus masuk, Min. Apapun yang terjadi aku harus bersama Wufan,” Luhan sedikit menaikkan nada suaranya.
“Biarkan dokter yang menanganinya!” Minseok juga ikut meninggikan suaranya membuat Luhan pasrah. Ia menenggelamkan wajahnya diantara kedua telapak tangannya meredam tangis. Yixing dengan lembut mengelus punggung Luhan mencoba menenangkan teman baiknya itu.
“Aku menjadi sepupu yang payah. Aku malu menjadi diriku sendiri. Aku selalu mengikutinya agar ia tidak dalam masalah. Sekarang aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi padanya,” sesal Luhan.
“Ini bukan salahmu, Lu,” ucap Yixing.

Mereka menunggu kabar keadaan Yifan dengan gelisah. Jongdae masih tertunduk, Tao menyandarkan kepalanya sambil menatap langit-langit rumah sakit. Luhan masih saja menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Yifan. Yixing masih mencoba menenangkan Luhan, sedangkan Minseok yang berdiri di seberang Luhan terus memperhatikan pintu ruang itu.
‘Kriieeett’ ketika pintu itu terbuka, mereka semua langsung menghampiri dokter yang menangani Yifan. Dokter tersebut menatap mereka bergantian dengan raut wajah yang mengatakan seolah-olah tidak ada yang bisa dilakukannya lagi. ia menggeleng sambil mengucapkan  kata ‘maaf’.
Tubuh Luhan hampir limbung dengan cepat Yixing membantunya untuk terus berdiri. Kereta dorong yang tadinya membawa tubuh Yifan kini keluar dengan seonggok tubuh yang tidak bernyawa lagi ditutupi kain berwarna putih.
“Wufan bangun!” Luhan menguncang tubuh Yifan tidak percaya. “Berhenti bercanda! Ini tidak lucu bodoh!” kesalnya.
“Hentikan Luhan! Jangan menyakitinya.” Minseok membentak Luhan. Ia juga ingin mempercayai Luhan, tapi dokter yang menanganinya mengatakan hal sebaliknya.
Luhan berbalik menatap Minseok. “Dia sedang bercanda. Dia mengerjai kita. Jangan menangis Minseok!” Luhan ikut membentak minseok ketika melihat Minseok mulai berkaca-kaca. “Wufan bangun! Berhenti mengerjai kami,” Luhan tersenyum miris, “Ini tidak lucu, hiks,” Luhan tidak bisa lagi menahan tangisnya.
Hari itu mereka semua menangis. Menangisi seseorang yang sudah mereka anggap seperti saudara sendiri. Bahkan Tao yang terkenal dengan jurus wushu-nya mulai sesunggukan di pelukan Jongdae.


Rintik-rintik hujan terus membasahi jalan-jalan kota sejak semalam. Pagi ini adalah hari pemakaman Yifan. Banyak teman-temannya yang menghadiri upacara pemakaman laki-laki berdarah campuran itu. Namun saat ini hanya Luhan yang masih berada di pemakaman, tidak peduli dengan rintik-rintik hujan yang seolah menyuruhnya pulang. Minseok dan yang lain telah kembali beberapa saat yang lalu atas permintaan Luhan.
“Wufan, apa hujan yang selama ini adalah air matamu atas rasa sakitmu? Itukah sebabnya kau sangat mencintainya? Kau ingat saat kita masih kecil, dulu aku pernah mengatakan bahwa aku akan mengikuti kemanapun kau pergi. Saat itu aku tidak pernah berpikir bahwa kau akan pergi sejauh ini. Aku hanya ingin kau tidak mendapat masalah karena kecerobohanmu,” Luhan menengadahkan wajahnya untuk menahan air mata yang siap meluncur dari pelupuk matanya.
“Tapi sekarang aku sadar. Kau bukan lagi anak kecil yang berumur tujuh tahun. Kau sudah tumbuh dewasa. Mungkin kau masih ceroboh, tapi kau tidak akan seceroboh dulu lagi. aku menyadarinya,” Luhan tersenyum. “Mulai sekarang aku berhenti mengikutimu. Berbahagialah di tempat barumu. Aku minta maaf dan terima kasih.” Luhan mengusap nisan Yifan. “Aku pulang. Jaga dirimu baik-baik, Wufan,” ucap Luhan sebelum bangkit dan pergi meninggalkan pemakaman.
‘Bahkan hujanpun seakan tahu isi hatimu
Mereka juga menangisi kepergianmu untuk yang terakhir kalinya’



END



Namja : Laki-laki dalam Bahasa Korea
Ge/gege : panggilan untuk laki-laki yang lebih tua dalam bahasa Mandarin
Hyung : panggilan untuk laki-laki yang lebih tua dalam bahasa Korea

Rabu, 28 Oktober 2015

Mahkotaku

Mahkotaku
Oleh Heldiana



Dekriminasi. Aku adalah korbannya. Hanya karena aku tidak seperti mereka, deskriminasi menghampiriku. Salahkah aku memilih apa yang menjadi prinsip dan keyakinanku? Aku hanya tidak ingin menjerumuskan kedua orangtuaku ke dalam neraka-Nya demi mengikuti kemauan mereka.
Berjilbab adalah pilihanku. Apapun yang terjadi aku tidak akan melepaskan mahkota seorang wanita yang kumiliki ini. Bahkan sekalipun ketika mereka mengejekku, menghinaku, mencemoohku, dan melakukan apapun yang menurut mereka akan membuatku malu.
Malu bagiku adalah melepas mahkotaku di hadapan yang bukan mahramku. Mahkota yang terlihat sederhana namun seperti tameng yang melindungi. Mahkota yang sederhana jika hanya dilihat sekejap mata. Mahkota yang sederhana namun menyimpan berjuta keindahan. Mahkota yang sederhana bagi mereka yang rela menampakkan rahasia mahkota.
Ketika nyanyian bernada meremehkan yang mereka lantunkan untukku tidak pernah sekalipun kuhiraukan. Bagiku, nyanyian itu adalah pujian yang terlalu malu untuk mereka sampaikan.

Aku pada prinsipku, berjilbab adalah pilihanku. Ketika kalian tidak ingin berjilbab jangan menarikku ke dunia kalian. Karena aku tidak ingin menyeret kedua orangtuaku ke dalam panasnya api neraka.

Jika boleh diizinkan, aku yang akan menarik kalian ke dalam duniaku, dalam pilihanku, dan dalam prinsipku. Sebagai wanita muslimah mari bersama-sama kita budayakan ‘Berjilbab yang sederhana’.

Puisi : Rakyat dan Dewan

Rakyat dan Dewan
Karya: Heldiana



Satukan langkah
Satukan jiwa
Mari menjemput
Dewan yang terhormat

Satukan langkah
Satukan jiwa
Mari membangunkan
Dewan yang terhormat

Rakyat menanti
Dewan berjanji
Rakyat memilih
Dewan terpilih

Rakyat optimis
Dewan mengemis
Rakyat berjuang
Dewan beruang

Rakyat berang
Dewan berangan
Rakyat bangkit

Dewan pun tak berkutik

Rabu, 12 Agustus 2015

Fiksi Mini: The Bride

The Bride
Oleh : Heldiana (AceFanFan)

Aku masih mengenakan gaun pengantinku, padahal acara pernikahanku sudah selesai sehari yang lalu. Bercak merah yang berada di dada kiriku sama sekali tidak mengganggu sosok yang kini duduk di hadapanku. Aku hanya menatapnya dengan tatapan sayu yang dibalas dengan sebuah senyuman lembut darinya.
Mataku tidak berkedip sama sekali, jangankan untuk berkedip bernapas pun aku tidak mampu untuk melakukannya lagi. Ia meraih tanganku yang mungkin terasa sangat dingin sekarang, memasukkan cincin yang dihiasi berlian ke jari manisku. Jika bisa meringis aku akan melakukannya agar dia tahu bahwa perbuatannya menyakiti tubuhku.
“Aku senang akhirnya hanya aku yang bisa memilikimu.” Ia mengecup punggung tanganku dan kembali aku merasakan sakit itu.
Aku tidak memberikan respon atau ekspresi apapun atas apa yang dilakukannya. Tapi dia tidak marah sama sekali, berbeda seperti biasanya yang tempramental.
Tubuhku benar-benar sakit terlebih jika didudukkan seperti ini. Apa dia tidak puas dengan menusukkan pisau tepat di jantungku? Membutku benar-benar mati rasa, dan kini dia menyiksaku dengan mengawetkan tubuhku. Aku tidak tahu apakah orangtuaku mengetahui perihal masalah ini, yang jelas saat ini aku terjebak bersama mantan kekasih gilaku.

END

Cerpen: Nggak Takut!



Nggak Takut!
Oleh: Heldiana (AceFanFan)


Malam semakin larut dan aku masih belum bisa memejamkan mataku. Berbagai posisi tidur telah kucoba agar aku bisa segera menuju alam mimpiku, tapi semua sia-sia. Nyatanya sampai sekarang mataku masih terbuka lebar.
‘Graasshh’ aku menajamkan pendengaranku ketika mendengar suara yang cukup asing di telingaku. Setelah suara aneh tersebut, terdengar derap kaki yang melewati kamarku dan disusul suara berisik dari arah dapur.
Aku mengeratkan genggamanku pada selimut, mungkin aku hanya berhalusinasi. Ini pasti efek dari film horror yang kutonton tadi. Huuftt, aku menghela napas lega ketika suara itu menghilang. Aku mencoba memejamkan mataku kembali, terjaga ditengah malam seperti ini memang tidak menyenangkan. Terlebih ini malam jumat, ooh aku tidak ingin membayangkannya.
‘Praaanngg!!’ Aku kembali membuka mataku ketika suara benda jatuh yang begitu keras itu mengusikku. Tubuhku rasanya kaku tapi rasa penasaranku mencoba melawan kekuan itu.
Dengan perlahan aku bangkit  berdiri, berjalan pelan-pelan, mengendap seperti maling yang hendak mencuri. Kuputar knop pintu kamarku, dengan was-was kuarahkan kakiku menuju dapur tempat suara tadi.
‘Cklek’ Aku menyalakan saklar lampu dan keadaan yang tadinya gelap kini berubah terang. Mataku bergerak-gerak mencari sesuata yang mengganjal, namun aku tidak menemukan apapun kecuali panci yang biasa digunakan Bunda untuk memasak sup tergeletak tak berdaya di lantai. Miris sekali nasibmu.
“Huuftt, syukurlah tidak ada apa-apa,” ucapku tanpa sadar mengelus dadaku sendiri.
Aku mematikan saklar lampu dan keadaan kembali gelap. Kulangkahkan kakiku menuju kamarku, namun baru beberapa langkah seseorang menepuk punggungku dari belakang. Refleks aku berbalik dan...
“AAAAAA!!!!” setelahnya aku tidak sadarkan diri lagi.




Aku menatap kesal kearah Kak Andi yang masih tertawa cekikikan sejak aku duduk di meja makan. Tatapan membunuh yang kulayangkan kearahnya seperti tidak mengganggunya sama sekali.
“Bundaaa!!” Rengekku mengalihkan pandanganku kearah Bunda yang sedang menyiapkan sarapan untuk kami.
Aku dapat melihat Bunda tersenyum sebelum menegur Kak Andi. “Andi, jangan tertawakan Dila.”
“Habisnya Dila lucu sih, Bun. Masa dia tidur di dapur semalaman.” Kak Andi masih terus cekikikan.
“Andi,” suara Ayah menginterupsi kegiatan Kak Andi yang sedang menertawaiku. Aku memeletkan lidah kearahnya karena Ayah mau membelaku. “Lain kali Dila tidur di kamar saja, kan Ayah sudah buatkan kamar untuk Dila,” lanjut Ayah yang otomatis membuatku kembali cemberut dan Kak Andi tertawa lebar.
“Bukan salah Dila, Ayah. Bunda semalam muncul tiba-tiba dengan wajah penuh masker. Dila kan gak tahu,” aku memajukan bibirku sedikit kesal.
“Bunda minta maaf sayang.” Bunda mengusap rambutku dan Kak Andi belum menghentikan tawanya.
“Makanya lain kali kalau di suruh tidur itu ya tidur jangan maksa nonton film horror. Kena kan?!” Kak Andi terus cekikikan membuatku gemas.
Aku mengambil roti tawar yang ada di meja, menyumpalnya ke dalam mulut Kak Andi yang menganga lebar. Ia mendelik dan aku tidak peduli. Kak Andi ingin membalasku ketika suara Bunda menghentikan aksi kami.
“Hei sudah. Cepat habiskan sarapan kalian, nanti terlambat lagi,” dan kami pun larut dalam menyantap sarapan pagi yang penuh dengan nikmat-Nya.


Sosok makhluk berlalu lalang di dapur, menjatuhkan benda-benda yang semula tertata rapi. Gaun putihnya berterbangan kemana sosok itu pergi, rambutnya lurus bergelombang, dan kulitnya pucat. Ia mendekat, semakin mendekat, seiring berjalannya waktu sosok itu semakin dekat saja. Wajahnya tidak terlalu jelas karena sebagian rambutnya menutupinya, dan suaranya begitu melengking.
“Hihihihihihi,”
“AAAAAAAA!!!!!!”

END