Black
Rain
Karya : Heldiana
(AceFanFan)
Aku bersyukur pada
Tuhan
Yang telah memberiku
kehidupan
Memberikanku tubuh yang
sempurna
Dengan mata yang mampu
melihat betapa indahnya ciptaan-Nya
Hidung untuk menghirup
oksigen bumi
Tangan untuk
menggenggam dan merangkul orang-orang di sekelilingku
Kaki yang selalu
menuntunku kearah masa depan yang lebih cerah
Serta jantung yang
berdetak seiring berjalannya waktu
Aku tau detakan jantung
ini tak lagi sempurna seperti jantung lainnya
Tapi aku bersyukur
setidaknya Tuhan masih menyayangiku
Sehingga kini Ia
mengujiku
“Wufan ge…” Tao
menepuk pelan pundak Yifan. Sebenarnya ia tidak ingin mengusik namja tiang
listrik itu, namun suara Jongdae yang terus berkicau di telinganya membuatnya
kini berada di kamar Yifan.
Wufan atau
lengkapnya Wu Yifan membalikkan posisi duduknya menghadap Tao. Sedikit
menaikkan alisnya ketika mendapati Tao yang sedang menatap bingung kearahnya.
“Kau sakit ge?
Wajahmu pucat sekali.” Tao menatapnya khawatir.
Yifan tersenyum
dan menggeleng pelan. “Tidak, aku hanya lapar saja.” Yifan bangkit dari
posisinya mendekati dan merangkul pundak Tao. “Siapa yang memasak hari ini?”
“Kau masih
bertanya? Padahalkan hari ini tugasmu menyiapkan makan siang untuk kita.”
Tao sedikit kesal dengan kelakukan Yifan
belakangan ini, laki-laki itu terlihat sedikit aneh di mata Tao.
“Hehehehe, maafkan aku.” Yifan menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil memamerkan sederetan
gigi putihnya.
“Apa yang
terjadi denganmu, ge? Akhir-akhir ini kau sering melamun, mengurung diri di
kamar, bahkan kau sering tidak fokus dengan apa yang kau lakukan. Apa ada yang
mengganggu pikiranmu?”
“Menganggu
pikiranku?” Yifan berpura-pura berpikir dan melirik Tao sekilas. “Tidak ada
yang menggangu pikiranku, Tao. Mungkin hanya perasaanmu.” Ucapnya tersenyum
manis.
“Benarkah? Lalu
kenapa kau membawaku ke ruang tamu? Aku lapar, ge. Kau ingin aku memakan sofa
itu? Aku tidak seganas itu.” Tao merengek melirik kearah tangan Yifan yang
merangkul pundaknya kemudian beralih menunjuk sofa yang tidak berdosa itu.
Yifan kembali
menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Eemm, sepertinya aku terlalu lapar
hingga aku tidak bisa berkonstrasi dengan baik.”
“Tsk, aku akan
menuntunmu ke ruang makan. Aku tidak ingin nantinya kita tersesat di kamar
mandi dan aku yakin Jongdae saat ini pasti sedang berdemo bersama bebek-bebek
karetnya. Ia bisa jadi sangat menyeramkan jika sedang lapar.”
“Hahaha kau
benar. Padahal kau yang paling rakus tapi justru dia yang tidak bisa menahan
laparnya.” Mereka berdua terkikik pelan mengingat kelakuan Jongdae.
Tao menatap
Yifan yang sedang terkekeh ‘Kau bisa membohongi orang lain, tapi kau tidak bisa
membohongi dirimu sendiri, ge.’ Tao tersenyum miris.
Hujan adalah lambang
kesedihan, bukan?
Tapi aku sangat
menyukai hujan
Setidaknya aku bisa
menangis di bawah guyuran air hujan
Tanpa seorang pun yang
tau akan kesedihanku
Aku bersyukur Tuhan
menciptakab langit dan bumi
Aku bisa mencurahkan
aegalanya disini
Bahkan ketika aku ingin
menangis
Entah mengapa langit
juga seakan iktu menangis
Membawa turun semua
kesedihanku dan membasahi bumi
Hari ini Yifan
kembali membolos dari kelasnya. Ia duduk sambil memejamkan matanya di sebuah
ayunan yang ada di taman bermain. Mengayun pelan ayunan tersebut dengan kaki
panjangnya.
‘DDrrtt…Ddrrtt…Ddrrtt…’
Yifan tersadar
dari lamunannya ketika ponselnya bergetar menandakan ada pesan masuk. Yifan merogoh
kantong celananya dan menyentuh layar ponselnya.
From: XiaoLuhanie
‘Hei tiang! Kau dimana? kenapa kau
tidak masuk tadi? Kau tau, gara-gara kau, aku dan Minseok mendapat nilai C dari
si botak gendut itu.’
Yifan tersenyum
membaca pesan dari Luhan, tangannya kemudian bergerak menekan tombol ‘call’
pada nomor ponsel Luhan.
“Yaakk kau
dimana sekarang, bodoh?” Yifan menjauhkan ponselnya dari telinganya untuk
menghindari teriakan Luhan yang berlebihan.
“Jangan
berteriak berlebihan Luhan. Kau hampir membuat telingaku tuli. Seharusnya kau
menjawab telponku dengan ramah dan lembut bukannya berteriak seperti itu.”
“Kau
membuatku kesal hari ini, Wufan. Aku menjadi bulan-bulanan Minseok. Sial!” upat
Luhan dengan nada kesal.
Yifan
terkekeh, “Aku senang kau memarahiku. Sudah lama sekali kau tidak marah-marah.
Aku merindukannya, Luhan,” Yifan mengeluarkan cengirannya seakan-akan Luhan
melihat wajah idiotnya saat ini.
“Aku
tidak habis pikir mengapa dulu aku masuk ke universitas dan mengambil jurusan
yang sama denganmu. Bodohnya lagi aku juga tinggal di asrama yang sama
denganmu.”
“Bukannya
dulu kau sendiri yang mengatakan ‘Kemanapun Wufan pergi aku akan ikut,’?” Yifan
meniru suara Luhan kecil yang terdengar begitu menyedihkan di telinga Luhan.
Suara Yifan begitu mengerikan.
“Oke!
Aku memang pernah mengatakannya,” aku Luhan, “Sekarang pulanglah. Sepertinya
akan turun hujan deras sebentar lagi.”
Yifan
menatap langit yang mulai diselimuti awan hitam. Setetes air hujan turun
mendarat di atas telapak tangan kanannya yang tengah menengadah. “Aku akan
pulang nanti,” Yifan langsung memutuskan sambungannya.
Seakan
mengerti dengan perasaan Yifan, langit mulai menjatuhkan bulir-bulir air hujan.
Sebagian mengenai wajah Yifan yang tengah menengadah. Yifan tidak tahu mana air
matanya dan mana air hujan, keduanya air yang berbeda rasa itu telah berbaur
jadi satu.
“Kuharap
kau tidak mengikutiku lagi ketika aku pergi dari sisi kalian, Luhan,” Yifan
memejamkan matanya merasakan hujan membasahi wajahnya.
Aku tidak tahu
sampai kapan aku akan bertahan
Aku tidak tahu
sampai kapan rasa sakit ini akan berhenti
Aku juga tidak
tahu sampai kapan jantung ini akan berhenti berdetak
Yang aku tahu
saat ini
Kalian ada
bersamaku
Sedikit
mengukir senyum di bibirku
Yang sangat
sulit kulakukan sekarang
Karena rasa
sakit ini lebih dominan kurasakan
“Hujannya
semakin deras,” Luhan berjalan mondar-mandir sambil sesekali menatap keluar
jendela.
Sudah
dua jam semenjak hujan turun dan Yifan belum kembali juga setelah ia mengakhiri
perbincangannya melalui ponsel. Luhan khawatir? Tentu, ia sangat mencemaskan
keadaan sepupunya yang terpaut umur enam bulan tujuh belas hari. Yifan itu
sangat ceroboh menurut Luhan, itu sebabnya kemanapun Yifan pergi dengan
senantiasa Luhan akan membuntutinya. Ia tidak ingin Yifan menimbulkan masalah.
Tapi akhir-akhir ini Luhan tidak lagi mengekori Yifan seperti saat mereka masih
kecil, ia tahu sepupunya butuh privasi.
“Apa
yang kau lakukan, Hyung? Kau terus mondar-mandir sejak tadi seperti strika,”
ucap Jongdae duduk di sofa dekat Luhan.
“Apa
Wufan belum kembali?”
“Yifan
hyung? Dia ada di kamarnya. Kau terlalu mengkhawatirkannya hingga tidak
menyadari kehadirannya. Dia tadi pulang basah kuyub dan tubuhnya menggigil.
Sekarang Tao dan Yixing hyung sedang mengurusnya.”
“Dimana
Minseok?”
“Dia
sedang membuatkan bubur untuk Yifan hyung. Kurasa dia demam.”
Luhan
langsung berjalan ke kamar Yifan setelah mendengar penjelasan Jongdae. Dengan
perlahan dibukanya pintu kamar Yifan menampakkan tiga orang anak manusia dengan
postur tubuh yang berbeda. Luhan melangkah masuk dan berdiri menatap Yifan.
“Akhir-akhir
ini kenapa kau sering sekali bermain hujan? Lihatlah sekarang akibatnya,” kesal
Luhan.
Yifan
hanya menanggapinya dengan senyuman, “Aku jatuh cinta, Lu,” ucapnya.
“Bodoh!
Apa kau sedang patah hati? Gadis mana yang telah membuatmu patah hati? Aku bisa
mencarikanmu gadis yang lebih baik lagi dari dia. Ingatlah pepatah lama ‘mati
satu tumbuh seribu’.”
“Aku
tidak sedang jatuh cinta pada wanita manapun, Lu. Aku jatuh cinta pada hujan.
Mereka sangat indah.”
“Kau
sakit Wufan,” cibir Luhan.
‘Ya,
aku memang sakit,’ batin Yifan meremas dada sebelah kirinya tanpa sepengetahuan
teman-temannya.
“Sudahlah.
Kalian ini senang sekali berdebat. Masalah kecilpun kalian perdebatkan,” ucap
Yixing.
“Bahkan
kalian lupa bahwa kami masih disini sedari tadi,” timpal Tao kesal.
“Hehehe,
Maaf Tao,” Yifan mengacak pelan rambut Tao. “Aku ingin istirahat. Hehehe,
tolong ya.”
Luhan,
Yixing, dan Tao memutar bola mata secara bersamaan. Jika Yifan mengatakan itu,
maka mereka harus keluar dari kamar Yifan. Lebih tepatnya mereka diusir secara
halus.
Ketika
teman-temannya keluar dan meninggalkan dirinya sendiri, Yifan meringkuk di atas
tempat tidurnya. Diremasnya dada sebelah kiri, ia menggigit bibir bawahnya
menahan rasa sakit. Yifan ingin sekali berteriak, tapi itu tidak mungkin karena
ia takut teman-temannya akan khawatir dengan keadaannya.
“Gege,
apa kau merasa ada yang aneh dengan Yifan-ge?” Tao bertanya dengan mata yang
masih fokus ke lantai.
Luhan
menoleh kearahnya, sedikit mengerutkan alis bingung. “Apa yang kau bicarakan?”
“Bukankah
kau sepupunya? Apa kau tidak merasa dia sedikit aneh akhir-akhir ini? Eemm, dia
seperti menyembunyikan sesuatu dari kita. Apa kau memperhatikan wajahnya tadi?
Dia terlihat seperti sedang menahan sakit walaupun tadi dia sempat cengengesan.”
“Entahlah.
Dia memang bukan Wufan yang dulu. Bahkan tadi dia senang mendengarku
memarahinya. Biasanya dia pasti akan berteriak ketika aku aku melakukan itu,”
Luhan menatap langit-langit asrama mereka.
“Waktu
akan menjawab segalanya.” Yixing menepuk pelan punggung Luhan.
Mereka
mengatakan
Akulah yang
paling dekat denganmu
Bodohnya aku
yang terlalu mendengarkan mereka
Nyatanya aku
idak mengetahui apa yang menimpamu
Bahkan ketika
kau terbaring lemah di tempatmu
Aku hanya bisa
menangisi kebodohanku
‘Bruuk’
Minseok yang melewati kamar Yifan merapatkan pendengarannya di dahan pintu
kamar Yifan ketika mendengar suara kegaduhan. Alisnya bertaut saat ia tidak
mendengar suara apapun setelahnya. Karena penasaran, dibukanya pintu kamar
Yifan tidak peduli jika nantinya sang pemilik akan berteriak heboh.
“Astaga!
Yifan!” Pekik Minseok mendapati Yifan yang terbaring di dekat meja belajarnya.
Minseok berteriak panik memanggil teman-temannya dengan masih memangku kepala
Yifan.
“Ada
apa hyung? Kenapa ber- Yifan hyung!” Jongdae tidak kalah panik, ia buru-buru
menghampiri Minseok. “Apa yang terjadi dengan Yifan hyung?” tanyanya.
“Tidak
tahu. Cepat panggilkan ambulance. Beritahu yang lain juga,” ucap Minseok kalang
kabut mencoba menyadarkan Yifan.
“Baik
hyung,” Jongdae berlari keluar kamar Yifan untuk mencari bantuan.
“Wufan
sadarlah!” Luhan terus berlari mengikuti kereta dorong yang membawa Yifan.
Tangannya semakin erat menggenggam tangan Yifan. Sedangkan Minseok, Yixing,
Jongdae dan Tao mengikutinya dari belakang.
“Maaf
Tuan, Anda harus menunggu di luar,” ucap seorang suster menahan Luhan untuk
masuk ke ruang UGD.
“Saya
kerabatnya suster. Izinkan saya masuk.”
“maaf,
tidak bisa. Ini sudah ketentuannya.” Suster itu langsung menutup pintu ruang
UGD.
Luhan
ingin mendobrak pintu penghalang antara dirinya dan Yifan, namun buru-buru
ditahan oleh teman-temannya.
“Jangan
keras kepala, Luhan,” ucap Minseok memegang erat pundak Luhan.
“Aku
harus masuk, Min. Apapun yang terjadi aku harus bersama Wufan,” Luhan sedikit
menaikkan nada suaranya.
“Biarkan
dokter yang menanganinya!” Minseok juga ikut meninggikan suaranya membuat Luhan
pasrah. Ia menenggelamkan wajahnya diantara kedua telapak tangannya meredam
tangis. Yixing dengan lembut mengelus punggung Luhan mencoba menenangkan teman
baiknya itu.
“Aku
menjadi sepupu yang payah. Aku malu menjadi diriku sendiri. Aku selalu
mengikutinya agar ia tidak dalam masalah. Sekarang aku bahkan tidak tahu apa
yang terjadi padanya,” sesal Luhan.
“Ini
bukan salahmu, Lu,” ucap Yixing.
Mereka
menunggu kabar keadaan Yifan dengan gelisah. Jongdae masih tertunduk, Tao
menyandarkan kepalanya sambil menatap langit-langit rumah sakit. Luhan masih
saja menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Yifan. Yixing masih
mencoba menenangkan Luhan, sedangkan Minseok yang berdiri di seberang Luhan
terus memperhatikan pintu ruang itu.
‘Kriieeett’
ketika pintu itu terbuka, mereka semua langsung menghampiri dokter yang
menangani Yifan. Dokter tersebut menatap mereka bergantian dengan raut wajah
yang mengatakan seolah-olah tidak ada yang bisa dilakukannya lagi. ia
menggeleng sambil mengucapkan kata
‘maaf’.
Tubuh
Luhan hampir limbung dengan cepat Yixing membantunya untuk terus berdiri.
Kereta dorong yang tadinya membawa tubuh Yifan kini keluar dengan seonggok tubuh
yang tidak bernyawa lagi ditutupi kain berwarna putih.
“Wufan
bangun!” Luhan menguncang tubuh Yifan tidak percaya. “Berhenti bercanda! Ini
tidak lucu bodoh!” kesalnya.
“Hentikan
Luhan! Jangan menyakitinya.” Minseok membentak Luhan. Ia juga ingin mempercayai
Luhan, tapi dokter yang menanganinya mengatakan hal sebaliknya.
Luhan
berbalik menatap Minseok. “Dia sedang bercanda. Dia mengerjai kita. Jangan
menangis Minseok!” Luhan ikut membentak minseok ketika melihat Minseok mulai
berkaca-kaca. “Wufan bangun! Berhenti mengerjai kami,” Luhan tersenyum miris,
“Ini tidak lucu, hiks,” Luhan tidak bisa lagi menahan tangisnya.
Hari
itu mereka semua menangis. Menangisi seseorang yang sudah mereka anggap seperti
saudara sendiri. Bahkan Tao yang terkenal dengan jurus wushu-nya mulai
sesunggukan di pelukan Jongdae.
Rintik-rintik
hujan terus membasahi jalan-jalan kota sejak semalam. Pagi ini adalah hari
pemakaman Yifan. Banyak teman-temannya yang menghadiri upacara pemakaman
laki-laki berdarah campuran itu. Namun saat ini hanya Luhan yang masih berada
di pemakaman, tidak peduli dengan rintik-rintik hujan yang seolah menyuruhnya
pulang. Minseok dan yang lain telah kembali beberapa saat yang lalu atas
permintaan Luhan.
“Wufan,
apa hujan yang selama ini adalah air matamu atas rasa sakitmu? Itukah sebabnya
kau sangat mencintainya? Kau ingat saat kita masih kecil, dulu aku pernah
mengatakan bahwa aku akan mengikuti kemanapun kau pergi. Saat itu aku tidak
pernah berpikir bahwa kau akan pergi sejauh ini. Aku hanya ingin kau tidak
mendapat masalah karena kecerobohanmu,” Luhan menengadahkan wajahnya untuk
menahan air mata yang siap meluncur dari pelupuk matanya.
“Tapi
sekarang aku sadar. Kau bukan lagi anak kecil yang berumur tujuh tahun. Kau
sudah tumbuh dewasa. Mungkin kau masih ceroboh, tapi kau tidak akan seceroboh
dulu lagi. aku menyadarinya,” Luhan tersenyum. “Mulai sekarang aku berhenti
mengikutimu. Berbahagialah di tempat barumu. Aku minta maaf dan terima kasih.”
Luhan mengusap nisan Yifan. “Aku pulang. Jaga dirimu baik-baik, Wufan,” ucap
Luhan sebelum bangkit dan pergi meninggalkan pemakaman.
‘Bahkan
hujanpun seakan tahu isi hatimu
Mereka
juga menangisi kepergianmu untuk yang terakhir kalinya’
END
Namja : Laki-laki dalam Bahasa Korea
Ge/gege : panggilan untuk laki-laki yang
lebih tua dalam bahasa Mandarin
Hyung : panggilan untuk laki-laki
yang lebih tua dalam bahasa Korea
Tidak ada komentar:
Posting Komentar