Nggak Takut!
Oleh: Heldiana
(AceFanFan)
Malam semakin larut dan
aku masih belum bisa memejamkan mataku. Berbagai posisi tidur telah kucoba agar
aku bisa segera menuju alam mimpiku, tapi semua sia-sia. Nyatanya sampai
sekarang mataku masih terbuka lebar.
‘Graasshh’ aku
menajamkan pendengaranku ketika mendengar suara yang cukup asing di telingaku.
Setelah suara aneh tersebut, terdengar derap kaki yang melewati kamarku dan
disusul suara berisik dari arah dapur.
Aku mengeratkan
genggamanku pada selimut, mungkin aku hanya berhalusinasi. Ini pasti efek dari
film horror yang kutonton tadi. Huuftt, aku menghela napas lega ketika suara
itu menghilang. Aku mencoba memejamkan mataku kembali, terjaga ditengah malam
seperti ini memang tidak menyenangkan. Terlebih ini malam jumat, ooh aku tidak
ingin membayangkannya.
‘Praaanngg!!’ Aku
kembali membuka mataku ketika suara benda jatuh yang begitu keras itu
mengusikku. Tubuhku rasanya kaku tapi rasa penasaranku mencoba melawan kekuan
itu.
Dengan perlahan aku
bangkit berdiri, berjalan pelan-pelan,
mengendap seperti maling yang hendak mencuri. Kuputar knop pintu kamarku,
dengan was-was kuarahkan kakiku menuju dapur tempat suara tadi.
‘Cklek’ Aku menyalakan
saklar lampu dan keadaan yang tadinya gelap kini berubah terang. Mataku
bergerak-gerak mencari sesuata yang mengganjal, namun aku tidak menemukan
apapun kecuali panci yang biasa digunakan Bunda untuk memasak sup tergeletak
tak berdaya di lantai. Miris sekali nasibmu.
“Huuftt, syukurlah
tidak ada apa-apa,” ucapku tanpa sadar mengelus dadaku sendiri.
Aku mematikan saklar
lampu dan keadaan kembali gelap. Kulangkahkan kakiku menuju kamarku, namun baru
beberapa langkah seseorang menepuk punggungku dari belakang. Refleks aku
berbalik dan...
“AAAAAA!!!!” setelahnya
aku tidak sadarkan diri lagi.
Aku menatap kesal
kearah Kak Andi yang masih tertawa cekikikan sejak aku duduk di meja makan.
Tatapan membunuh yang kulayangkan kearahnya seperti tidak mengganggunya sama
sekali.
“Bundaaa!!” Rengekku
mengalihkan pandanganku kearah Bunda yang sedang menyiapkan sarapan untuk kami.
Aku dapat melihat Bunda
tersenyum sebelum menegur Kak Andi. “Andi, jangan tertawakan Dila.”
“Habisnya Dila lucu
sih, Bun. Masa dia tidur di dapur semalaman.” Kak Andi masih terus cekikikan.
“Andi,” suara Ayah
menginterupsi kegiatan Kak Andi yang sedang menertawaiku. Aku memeletkan lidah
kearahnya karena Ayah mau membelaku. “Lain kali Dila tidur di kamar saja, kan
Ayah sudah buatkan kamar untuk Dila,” lanjut Ayah yang otomatis membuatku
kembali cemberut dan Kak Andi tertawa lebar.
“Bukan salah Dila,
Ayah. Bunda semalam muncul tiba-tiba dengan wajah penuh masker. Dila kan gak tahu,” aku memajukan bibirku
sedikit kesal.
“Bunda minta maaf
sayang.” Bunda mengusap rambutku dan Kak Andi belum menghentikan tawanya.
“Makanya lain kali
kalau di suruh tidur itu ya tidur jangan maksa nonton film horror. Kena kan?!”
Kak Andi terus cekikikan membuatku gemas.
Aku mengambil roti
tawar yang ada di meja, menyumpalnya ke dalam mulut Kak Andi yang menganga
lebar. Ia mendelik dan aku tidak peduli. Kak Andi ingin membalasku ketika suara
Bunda menghentikan aksi kami.
“Hei sudah. Cepat
habiskan sarapan kalian, nanti terlambat lagi,” dan kami pun larut dalam
menyantap sarapan pagi yang penuh dengan nikmat-Nya.
Sosok makhluk berlalu
lalang di dapur, menjatuhkan benda-benda yang semula tertata rapi. Gaun
putihnya berterbangan kemana sosok itu pergi, rambutnya lurus bergelombang, dan
kulitnya pucat. Ia mendekat, semakin mendekat, seiring berjalannya waktu sosok
itu semakin dekat saja. Wajahnya tidak terlalu jelas karena sebagian rambutnya
menutupinya, dan suaranya begitu melengking.
“Hihihihihihi,”
“AAAAAAAA!!!!!!”
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar