Rabu, 12 Agustus 2015

Cerpen: Nggak Takut!



Nggak Takut!
Oleh: Heldiana (AceFanFan)


Malam semakin larut dan aku masih belum bisa memejamkan mataku. Berbagai posisi tidur telah kucoba agar aku bisa segera menuju alam mimpiku, tapi semua sia-sia. Nyatanya sampai sekarang mataku masih terbuka lebar.
‘Graasshh’ aku menajamkan pendengaranku ketika mendengar suara yang cukup asing di telingaku. Setelah suara aneh tersebut, terdengar derap kaki yang melewati kamarku dan disusul suara berisik dari arah dapur.
Aku mengeratkan genggamanku pada selimut, mungkin aku hanya berhalusinasi. Ini pasti efek dari film horror yang kutonton tadi. Huuftt, aku menghela napas lega ketika suara itu menghilang. Aku mencoba memejamkan mataku kembali, terjaga ditengah malam seperti ini memang tidak menyenangkan. Terlebih ini malam jumat, ooh aku tidak ingin membayangkannya.
‘Praaanngg!!’ Aku kembali membuka mataku ketika suara benda jatuh yang begitu keras itu mengusikku. Tubuhku rasanya kaku tapi rasa penasaranku mencoba melawan kekuan itu.
Dengan perlahan aku bangkit  berdiri, berjalan pelan-pelan, mengendap seperti maling yang hendak mencuri. Kuputar knop pintu kamarku, dengan was-was kuarahkan kakiku menuju dapur tempat suara tadi.
‘Cklek’ Aku menyalakan saklar lampu dan keadaan yang tadinya gelap kini berubah terang. Mataku bergerak-gerak mencari sesuata yang mengganjal, namun aku tidak menemukan apapun kecuali panci yang biasa digunakan Bunda untuk memasak sup tergeletak tak berdaya di lantai. Miris sekali nasibmu.
“Huuftt, syukurlah tidak ada apa-apa,” ucapku tanpa sadar mengelus dadaku sendiri.
Aku mematikan saklar lampu dan keadaan kembali gelap. Kulangkahkan kakiku menuju kamarku, namun baru beberapa langkah seseorang menepuk punggungku dari belakang. Refleks aku berbalik dan...
“AAAAAA!!!!” setelahnya aku tidak sadarkan diri lagi.




Aku menatap kesal kearah Kak Andi yang masih tertawa cekikikan sejak aku duduk di meja makan. Tatapan membunuh yang kulayangkan kearahnya seperti tidak mengganggunya sama sekali.
“Bundaaa!!” Rengekku mengalihkan pandanganku kearah Bunda yang sedang menyiapkan sarapan untuk kami.
Aku dapat melihat Bunda tersenyum sebelum menegur Kak Andi. “Andi, jangan tertawakan Dila.”
“Habisnya Dila lucu sih, Bun. Masa dia tidur di dapur semalaman.” Kak Andi masih terus cekikikan.
“Andi,” suara Ayah menginterupsi kegiatan Kak Andi yang sedang menertawaiku. Aku memeletkan lidah kearahnya karena Ayah mau membelaku. “Lain kali Dila tidur di kamar saja, kan Ayah sudah buatkan kamar untuk Dila,” lanjut Ayah yang otomatis membuatku kembali cemberut dan Kak Andi tertawa lebar.
“Bukan salah Dila, Ayah. Bunda semalam muncul tiba-tiba dengan wajah penuh masker. Dila kan gak tahu,” aku memajukan bibirku sedikit kesal.
“Bunda minta maaf sayang.” Bunda mengusap rambutku dan Kak Andi belum menghentikan tawanya.
“Makanya lain kali kalau di suruh tidur itu ya tidur jangan maksa nonton film horror. Kena kan?!” Kak Andi terus cekikikan membuatku gemas.
Aku mengambil roti tawar yang ada di meja, menyumpalnya ke dalam mulut Kak Andi yang menganga lebar. Ia mendelik dan aku tidak peduli. Kak Andi ingin membalasku ketika suara Bunda menghentikan aksi kami.
“Hei sudah. Cepat habiskan sarapan kalian, nanti terlambat lagi,” dan kami pun larut dalam menyantap sarapan pagi yang penuh dengan nikmat-Nya.


Sosok makhluk berlalu lalang di dapur, menjatuhkan benda-benda yang semula tertata rapi. Gaun putihnya berterbangan kemana sosok itu pergi, rambutnya lurus bergelombang, dan kulitnya pucat. Ia mendekat, semakin mendekat, seiring berjalannya waktu sosok itu semakin dekat saja. Wajahnya tidak terlalu jelas karena sebagian rambutnya menutupinya, dan suaranya begitu melengking.
“Hihihihihihi,”
“AAAAAAAA!!!!!!”

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar